23 December 2009

Indifference Doesn't Mean Similar

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 21:35
gambar diambil disini

Kehadiran sebuah blog tentu saja memberikan napas segar bagi kita yang memang menyukai dunia tulis menulis. Bahkan yang ga terlalu suka nulis pun tetap bisa numpahin uneg-unegnya dalam sebuah tulisan.

Terus apa aja yang bisa ditulis di sebuah blog? Banyak! Mau itu info atau cuma sekedar obrolan ga jelas, mau itu review film/buku atau cuma ngomentarin betapa jeleknya buku yang barusan aja dibaca, atau mau itu curhat atau cuma sekedar ngomel-ngomel, semuanya bisa diwujudkan dalam tulisan... *selama ga ada unsur SARA atau pornografi loh ya...*

Dan apa aja yang saya tulis di blog saya? Semua yang ada di kepala saya, semua yang saya liat dan dengar, dan semua yang membuat saya tergoda untuk merenungkannya.

Tapi karena begitu asyiknya saya dengan tulisan, saya terkadang sampai lupa kalau sebenarnya bukan cuma saya aja yang bisa mengonsumsinya. Saya nulis di blog toh, itu artinya pasti bakalan ada yang baca tulisan saya, berusaha memahami makna apa yang ingin saya sampaikan, dan jadi sedikit kebingungan kalau udah mentok untuk nyari jawaban.

Ya, just put the blame on me. Saya memang sedikit egois, saya akui itu. Terkadang saya nulis untuk sesuatu yang cuma saya pahami sendiri, sementara yang udah baca tulisan saya sampai harus mengerutkan kening cuma untuk memahaminya.

Untuk itu saya minta maaf...

Ini semua berawal dari postingan saya beberapa hari yang lalu tentang sebuah quotation berjudul It's Indifference, yang sukses bikin beberapa teman saya manggut-manggut ga mudeng. Hehee... maaf ya...

Sedikit cerita nih, quotation itu saya temukan di sebuah buku yang pernah saya baca sekitar tahun 2004an di sebuah perpustakaan kota. *Dulu saya sering banget ke perpustakaan cuma buat nongkrong sama buku-buku lama yang ternyata oke-oke.* Sayang banget saya ga ingat judul bukunya apa. Tapi ya udahlah, pokoknya yang jelas begitu saya baca empat baris kalimat itu, saya langsung tergugah (haiah... bahasanya...).

Saya baru sekali itu nemu kalimat yang bener-bener bikin saya mikir. Ya, saya juga pada awalnya kesulitan buat memahaminya. Tapi semakin saya baca, semakin saya dapat menangkap maksud dari si penulis. Atau mungkin sayanya aja yang maksain buat nemuin penjelasannya, entahlah.

Jadi, biarlah saya coba menjelaskan quotation tersebut berdasarkan pemahaman saya...

The opposite of love is not hate, it's indifference.
Kalau dipikir-pikir, semua orang juga sudah bisa nebak kalau lawan dari cinta adalah benci. Tapi kalau kita coba lebih pahami lagi, apa bener seperti itu? Menurut saya cinta dan benci adalah hal yang "satu". Mereka ga berbeda, tapi bukan berarti juga sama. Benci lahir dari sebuah cinta. Kekecewaan terhadap sesuatu yang kita cintai akan melahirkan benci. Cinta dan benci pada dasarnya berasal dari hal yang sama, kasih sayang. Yang membuat mereka dianggap berbeda adalah yang satu memiliki kasih sayang yang lebih banyak dibandingkan yang lain.

The opposite of art is not ugliness, it's indifference.
Apakah yang namanya seni selalu diidentikkan dengan hal yang indah-indah sehingga kalau ditanyakan apa lawan dari seni kita langsung menjawab: ketidak-indahan? Menurut saya jelas tidak. Sejak saya mulai mengenal hidup sampai sekarang, saya ga pernah berhasil menemukan apa lawan dari sebuah seni. Bahkan sesuatu yang tidak indah pun bisa dianggap seni, tergantung sudut pandang si penilai. Seni itu relatif. Seni tergantung pada tiap individu. Dan kalaupun saya tetap dipaksa untuk mencari sesuatu yang bertentangan tentang seni, atau keindahan, saya mungkin akan membandingkan tentang keindahan dan mereka yang tidak mau melihat keindahan itu.

The opposite of faith is not heresy, it's indifference.
Menurut saya keyakinan tetaplah keyakinan. Mau itu meyakini Tuhan, atau menyembah berhala, atau percaya pada dukun, atau tunduk pada ilmu pengetahuan, atau menjalankan sebuah ajaran yang menurut orang lain sesat, tapi menurut dia benar. Disini kita ga berbicara tentang baik atau buruknya sebuah keyakinan yang dianut. Semua orang punya hak untuk meyakini apapun yang menurut mereka paling benar. Disini kita mencoba memahami sebuah keyakinan sebagai fitrah seorang manusia. Hal paling mudah untuk mencari kebalikan atau lawan dari sebuah keyakinan adalah tidak yakin. Itupun saya ragukan. Mungkin memang benar ada orang-orang yang "tidak yakin", tapi toh kenyataannya mereka "meyakini" hal yang lain.

And the opposite of life is not death, it's indifference.
Kehidupan dan kematian. Saya tidak pernah menemukan perbedaan dari dua kata tersebut. Atau lebih tepatnya, kematian justru sebuah fase dalam kehidupan. Di agama saya, saya diajarkan lima fase kehidupan : Alam Ruh, alam dimana sebelum jasad manusia diciptakan. Fase selanjutnya kita menuju Alam Rahim, alam kandungan ibu tempat menyempurnakan jasad manusia dan penentuan kadar nasib kita didunia seperti hidup, rezeki, kapan dan dimana kita meninggal. Dan sekarang kita memasuki fase yang ketiga Alam Dunia, alam tempat ujian bagi manusia, siapakah diantara mereka yang paling baik amalannya. Dan masih ada 2 fase lagi yang kita akan lalui yaitu Alam Kubur ( alam barzakh), alam tempat menyimpan amal manusia, di alam ini Tuhan menyediakan dua keadaan, nikmat atau azab kubur. Dan alam terakhir yang harus kita lewati adalah Alam Akhirat ( alam tempat pembalasan amal-amal manusia ). Di alam ini Tuhan menentukan keputusan dua tempat untuk manusia, apakah ia akan menghuni surga atau menghuni neraka. Dan Kematian adalah jembatan yang harus kita lalui ketika meninggalkan Alam Dunia menuju ke Alam Kubur.

Jadi kira-kira seperti itulah pemahaman saya tentang quotation yang sudah pernah saya tuliskan. Mungkin ada beberapa (atau malah semuanya) yang sangat tidak sesuai dengan pemahaman kalian. Ga apa-apa kan...? Bukannya masing-masing kita memang diciptakan berbeda...?

Ya udahlah, itu aja yang bisa saya sharing buat kalian...
Saya udah cape banget nih... ngantuk...

2 ocehan mereka:

Sang Cerpenis bercerita on 24 December 2009 at 11:11 said...

saya juga cape bacanya. hehehe..krn mencoba memahami quotationnya jadi cape deh.

de asmara on 24 December 2009 at 12:18 said...

setelah dijabarin gini baru mudeng. ya, bener juga sih Na...

tapi terkadang memang ini hanya soal pemilihan kata, seperti teorinya Einstein bahwa Gelap itu tidak ada, yg ada hanya Cahaya.

Apa yg kita sebut gelap itu hanyalah kondisi karena ketiadaan cahaya. ah jadi bingung... bukannya karena ada kondisi itu maka kita beri nama dia 'Gelap'?

Post a Comment

Makasih banget deh udah nyempat-nyempatin baca... lebih makasih lagi kalau ditambah komennya...

23 December 2009

Indifference Doesn't Mean Similar

Posted by Si_Isna at 21:35
gambar diambil disini

Kehadiran sebuah blog tentu saja memberikan napas segar bagi kita yang memang menyukai dunia tulis menulis. Bahkan yang ga terlalu suka nulis pun tetap bisa numpahin uneg-unegnya dalam sebuah tulisan.

Terus apa aja yang bisa ditulis di sebuah blog? Banyak! Mau itu info atau cuma sekedar obrolan ga jelas, mau itu review film/buku atau cuma ngomentarin betapa jeleknya buku yang barusan aja dibaca, atau mau itu curhat atau cuma sekedar ngomel-ngomel, semuanya bisa diwujudkan dalam tulisan... *selama ga ada unsur SARA atau pornografi loh ya...*

Dan apa aja yang saya tulis di blog saya? Semua yang ada di kepala saya, semua yang saya liat dan dengar, dan semua yang membuat saya tergoda untuk merenungkannya.

Tapi karena begitu asyiknya saya dengan tulisan, saya terkadang sampai lupa kalau sebenarnya bukan cuma saya aja yang bisa mengonsumsinya. Saya nulis di blog toh, itu artinya pasti bakalan ada yang baca tulisan saya, berusaha memahami makna apa yang ingin saya sampaikan, dan jadi sedikit kebingungan kalau udah mentok untuk nyari jawaban.

Ya, just put the blame on me. Saya memang sedikit egois, saya akui itu. Terkadang saya nulis untuk sesuatu yang cuma saya pahami sendiri, sementara yang udah baca tulisan saya sampai harus mengerutkan kening cuma untuk memahaminya.

Untuk itu saya minta maaf...

Ini semua berawal dari postingan saya beberapa hari yang lalu tentang sebuah quotation berjudul It's Indifference, yang sukses bikin beberapa teman saya manggut-manggut ga mudeng. Hehee... maaf ya...

Sedikit cerita nih, quotation itu saya temukan di sebuah buku yang pernah saya baca sekitar tahun 2004an di sebuah perpustakaan kota. *Dulu saya sering banget ke perpustakaan cuma buat nongkrong sama buku-buku lama yang ternyata oke-oke.* Sayang banget saya ga ingat judul bukunya apa. Tapi ya udahlah, pokoknya yang jelas begitu saya baca empat baris kalimat itu, saya langsung tergugah (haiah... bahasanya...).

Saya baru sekali itu nemu kalimat yang bener-bener bikin saya mikir. Ya, saya juga pada awalnya kesulitan buat memahaminya. Tapi semakin saya baca, semakin saya dapat menangkap maksud dari si penulis. Atau mungkin sayanya aja yang maksain buat nemuin penjelasannya, entahlah.

Jadi, biarlah saya coba menjelaskan quotation tersebut berdasarkan pemahaman saya...

The opposite of love is not hate, it's indifference.
Kalau dipikir-pikir, semua orang juga sudah bisa nebak kalau lawan dari cinta adalah benci. Tapi kalau kita coba lebih pahami lagi, apa bener seperti itu? Menurut saya cinta dan benci adalah hal yang "satu". Mereka ga berbeda, tapi bukan berarti juga sama. Benci lahir dari sebuah cinta. Kekecewaan terhadap sesuatu yang kita cintai akan melahirkan benci. Cinta dan benci pada dasarnya berasal dari hal yang sama, kasih sayang. Yang membuat mereka dianggap berbeda adalah yang satu memiliki kasih sayang yang lebih banyak dibandingkan yang lain.

The opposite of art is not ugliness, it's indifference.
Apakah yang namanya seni selalu diidentikkan dengan hal yang indah-indah sehingga kalau ditanyakan apa lawan dari seni kita langsung menjawab: ketidak-indahan? Menurut saya jelas tidak. Sejak saya mulai mengenal hidup sampai sekarang, saya ga pernah berhasil menemukan apa lawan dari sebuah seni. Bahkan sesuatu yang tidak indah pun bisa dianggap seni, tergantung sudut pandang si penilai. Seni itu relatif. Seni tergantung pada tiap individu. Dan kalaupun saya tetap dipaksa untuk mencari sesuatu yang bertentangan tentang seni, atau keindahan, saya mungkin akan membandingkan tentang keindahan dan mereka yang tidak mau melihat keindahan itu.

The opposite of faith is not heresy, it's indifference.
Menurut saya keyakinan tetaplah keyakinan. Mau itu meyakini Tuhan, atau menyembah berhala, atau percaya pada dukun, atau tunduk pada ilmu pengetahuan, atau menjalankan sebuah ajaran yang menurut orang lain sesat, tapi menurut dia benar. Disini kita ga berbicara tentang baik atau buruknya sebuah keyakinan yang dianut. Semua orang punya hak untuk meyakini apapun yang menurut mereka paling benar. Disini kita mencoba memahami sebuah keyakinan sebagai fitrah seorang manusia. Hal paling mudah untuk mencari kebalikan atau lawan dari sebuah keyakinan adalah tidak yakin. Itupun saya ragukan. Mungkin memang benar ada orang-orang yang "tidak yakin", tapi toh kenyataannya mereka "meyakini" hal yang lain.

And the opposite of life is not death, it's indifference.
Kehidupan dan kematian. Saya tidak pernah menemukan perbedaan dari dua kata tersebut. Atau lebih tepatnya, kematian justru sebuah fase dalam kehidupan. Di agama saya, saya diajarkan lima fase kehidupan : Alam Ruh, alam dimana sebelum jasad manusia diciptakan. Fase selanjutnya kita menuju Alam Rahim, alam kandungan ibu tempat menyempurnakan jasad manusia dan penentuan kadar nasib kita didunia seperti hidup, rezeki, kapan dan dimana kita meninggal. Dan sekarang kita memasuki fase yang ketiga Alam Dunia, alam tempat ujian bagi manusia, siapakah diantara mereka yang paling baik amalannya. Dan masih ada 2 fase lagi yang kita akan lalui yaitu Alam Kubur ( alam barzakh), alam tempat menyimpan amal manusia, di alam ini Tuhan menyediakan dua keadaan, nikmat atau azab kubur. Dan alam terakhir yang harus kita lewati adalah Alam Akhirat ( alam tempat pembalasan amal-amal manusia ). Di alam ini Tuhan menentukan keputusan dua tempat untuk manusia, apakah ia akan menghuni surga atau menghuni neraka. Dan Kematian adalah jembatan yang harus kita lalui ketika meninggalkan Alam Dunia menuju ke Alam Kubur.

Jadi kira-kira seperti itulah pemahaman saya tentang quotation yang sudah pernah saya tuliskan. Mungkin ada beberapa (atau malah semuanya) yang sangat tidak sesuai dengan pemahaman kalian. Ga apa-apa kan...? Bukannya masing-masing kita memang diciptakan berbeda...?

Ya udahlah, itu aja yang bisa saya sharing buat kalian...
Saya udah cape banget nih... ngantuk...

2 comments on "Indifference Doesn't Mean Similar"

Sang Cerpenis bercerita on 24 December 2009 at 11:11 said...

saya juga cape bacanya. hehehe..krn mencoba memahami quotationnya jadi cape deh.

de asmara on 24 December 2009 at 12:18 said...

setelah dijabarin gini baru mudeng. ya, bener juga sih Na...

tapi terkadang memang ini hanya soal pemilihan kata, seperti teorinya Einstein bahwa Gelap itu tidak ada, yg ada hanya Cahaya.

Apa yg kita sebut gelap itu hanyalah kondisi karena ketiadaan cahaya. ah jadi bingung... bukannya karena ada kondisi itu maka kita beri nama dia 'Gelap'?

Post a Comment

Makasih banget deh udah nyempat-nyempatin baca... lebih makasih lagi kalau ditambah komennya...

My Blog List (testing what a long title looks like)

 
Blog Design by Template-Mama.