19 January 2010

Sebuah Keputusan

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 13:09
gambar diambil disini

Siapa yang mengira bahwa tahun 2010 saya akan diawali dengan sebuah pergolakan batin antara ego dan keinginan menjadi dewasa. Tercabik antara dendam masa lalu dan keinginan untuk bermetamorfosa bener-bener berat rasanya.

Tepat tanggal 1 Januari 2010, seorang teman lama menyapa saya via chat online. Saya ga tau dari mana dia tau user ID saya (mungkin dia tanya teman saya yang lain), tapi bukan itu yang jadi masalah.

Kehadiran dia kembali membuka luka lama saya. Sebuah luka dalam yang disebabkan oleh kekecewaan gigantis dari seorang sahabat.

Dia pernah jadi sahabat saya. Bahkan sahabat terdekat yang pernah saya miliki. Seseorang yang pernah menjadi kepercayaan terbesar saya. Seseorang yang dengan ikhlas hati saya terima semua kelebihan dan kekurangan serta "perbedaan besar" di antara kami berdua. Saya bahkan bisa terima sikap dia yang selalu menganggap saya saingannya, entah itu dalam hal akademis, pertemanan, atau pun percintaan.

Tapi satu hal yang bener-bener ga bisa saya terima adalah pengkhianatan kepercayaan yang pernah dia lakukan.

Saya ga perlu menjelaskan secara rinci apa yang pernah dia lakukan, tapi yang jelas itu cukup membuat saya berhenti untuk mempercayainya, atau yang lebih parah, berhenti untuk mengenal yang namanya sahabat.

Dan dia hadir lagi. Saya sempat ngerasa bingung. Sebagian hati saya masih sangat membencinya, tapi bagian hati saya yang lain justru sangat mengharapkan saya untuk bisa mulai belajar menerima kesalahan, sebesar apapun kesalahan itu.

Saya ga pernah mau bikin resolusi setiap tahun, tapi saya selalu berharap saya bisa bersikap lebih baik lagi di setiap harinya.
Dan saya pun tau apa yang harus (dan ingin) saya lakukan.
Saya belajar memaafkan dia.
Saya belajar untuk menerima pengkhianatan yang pernah dia lakukan.
Saya mencoba untuk berpikir positif bahwa mungkin dia melakukannya untuk alasan yang meskipun pada saat itu ga bisa saya terima, tapi mungkin ternyata itu adalah satu-satunya yang bisa dia lakukan.

Saya pun tau, saya juga pernah melakukan kesalahan. Sungguh ga adil kalau saya ga bisa menerima kesalahan orang lain sementara saya juga ga luput dari salah dan khilaf. Dan salah satu cara untuk menebusnya adalah dengan membuka kembali jalinan pertemanan itu.

Saya hanya berharap bahwa apa yang saya lakukan ini mampu membuat saya bisa berpikir dan bersikap lebih dewasa lagi.

Welcome back friend. Kita mungkin sudah ga bisa lagi jadi sahabat, tapi kita masih bisa berteman. Mungkin itu yang terbaik yang bisa kita lakukan sekarang.

11 ocehan mereka:

Sari on 19 January 2010 at 14:09 said...

Kalo aku emang blom siap dengan kehadiran dia, aku akan bilang dengan jujur. Tapi, aku salut dengan kamu yang bisa menyikapi ini dengan bijak :D

Kabasaran Soultan on 19 January 2010 at 14:09 said...

Ngak perlu resolusi ...
Yang penting tetap semangat
selamat bertemu dengan sobat lama kembali
Lupakan salahnya dan buka lembaran baru.

Bandit Pangaratto™ on 19 January 2010 at 14:50 said...

ya...
itu sebuah kesempatan untuk meningkatkan kadar kesabaran...

Memaafkan, melupakan kesalahan itu hal yg sulit... saking sulitnya, saat kamu bisa melakukannya, kamu meningkat setingkat lebih sabar...

Noor's blog on 19 January 2010 at 18:34 said...

Sulit...memang sulit ! kalau saya jadi mba Isna, mungkin saya bisa menerimanya kembali sebagai seorang teman tapi saya tak akan bisa memaafkan penghianatannya...

Tapi saya setuju dengan Bandit....

reni on 19 January 2010 at 22:50 said...

Sebuah keputusan yang sulit memang..., tapi aku yakin apa yang mbak putuskan itulah yang terbaik.

anyin on 20 January 2010 at 11:58 said...

sama kayak mbak sarii hehe.. tapi bener deh kehilangan teman bisa jadi sangat sakit

Dhe on 20 January 2010 at 13:26 said...

menjadi tua itu mudah, tetapi menjadi dewasa adalah sbuah pilihan yang susah. menjadi dewasa jg sebuah keputusan yang bijak :D

Sang Cerpenis bercerita on 20 January 2010 at 13:49 said...

yup, maafkan dia. memang tak mudah tapi itu menunjukkan sikap yg dewasa

CÜpú kisяÜh on 20 January 2010 at 15:48 said...

memang sulit menemukan kepercayaan yang udah hilang mbak :)
tapi disini mbak di tantang untuk memilih yang mana yang terbaik buat mbak :)

ninneta on 20 January 2010 at 16:06 said...

Salam sobat, datang mempererat silaturahmi... maaf baru mampir lagi... kesehatan memburuk baru membaik... Semoga selalu dalam kebahagiaan...

Ninneta

abeng beng /arjopedal on 21 January 2010 at 01:39 said...

Salam sobat untuk memaafkan kesalahan orang lain memang sangatlah berat tetapi memeafkan merupakan tindakan yang mulya

Post a Comment

Makasih banget deh udah nyempat-nyempatin baca... lebih makasih lagi kalau ditambah komennya...

19 January 2010

Sebuah Keputusan

Posted by Si_Isna at 13:09
gambar diambil disini

Siapa yang mengira bahwa tahun 2010 saya akan diawali dengan sebuah pergolakan batin antara ego dan keinginan menjadi dewasa. Tercabik antara dendam masa lalu dan keinginan untuk bermetamorfosa bener-bener berat rasanya.

Tepat tanggal 1 Januari 2010, seorang teman lama menyapa saya via chat online. Saya ga tau dari mana dia tau user ID saya (mungkin dia tanya teman saya yang lain), tapi bukan itu yang jadi masalah.

Kehadiran dia kembali membuka luka lama saya. Sebuah luka dalam yang disebabkan oleh kekecewaan gigantis dari seorang sahabat.

Dia pernah jadi sahabat saya. Bahkan sahabat terdekat yang pernah saya miliki. Seseorang yang pernah menjadi kepercayaan terbesar saya. Seseorang yang dengan ikhlas hati saya terima semua kelebihan dan kekurangan serta "perbedaan besar" di antara kami berdua. Saya bahkan bisa terima sikap dia yang selalu menganggap saya saingannya, entah itu dalam hal akademis, pertemanan, atau pun percintaan.

Tapi satu hal yang bener-bener ga bisa saya terima adalah pengkhianatan kepercayaan yang pernah dia lakukan.

Saya ga perlu menjelaskan secara rinci apa yang pernah dia lakukan, tapi yang jelas itu cukup membuat saya berhenti untuk mempercayainya, atau yang lebih parah, berhenti untuk mengenal yang namanya sahabat.

Dan dia hadir lagi. Saya sempat ngerasa bingung. Sebagian hati saya masih sangat membencinya, tapi bagian hati saya yang lain justru sangat mengharapkan saya untuk bisa mulai belajar menerima kesalahan, sebesar apapun kesalahan itu.

Saya ga pernah mau bikin resolusi setiap tahun, tapi saya selalu berharap saya bisa bersikap lebih baik lagi di setiap harinya.
Dan saya pun tau apa yang harus (dan ingin) saya lakukan.
Saya belajar memaafkan dia.
Saya belajar untuk menerima pengkhianatan yang pernah dia lakukan.
Saya mencoba untuk berpikir positif bahwa mungkin dia melakukannya untuk alasan yang meskipun pada saat itu ga bisa saya terima, tapi mungkin ternyata itu adalah satu-satunya yang bisa dia lakukan.

Saya pun tau, saya juga pernah melakukan kesalahan. Sungguh ga adil kalau saya ga bisa menerima kesalahan orang lain sementara saya juga ga luput dari salah dan khilaf. Dan salah satu cara untuk menebusnya adalah dengan membuka kembali jalinan pertemanan itu.

Saya hanya berharap bahwa apa yang saya lakukan ini mampu membuat saya bisa berpikir dan bersikap lebih dewasa lagi.

Welcome back friend. Kita mungkin sudah ga bisa lagi jadi sahabat, tapi kita masih bisa berteman. Mungkin itu yang terbaik yang bisa kita lakukan sekarang.

11 comments on "Sebuah Keputusan"

Sari on 19 January 2010 at 14:09 said...

Kalo aku emang blom siap dengan kehadiran dia, aku akan bilang dengan jujur. Tapi, aku salut dengan kamu yang bisa menyikapi ini dengan bijak :D

Kabasaran Soultan on 19 January 2010 at 14:09 said...

Ngak perlu resolusi ...
Yang penting tetap semangat
selamat bertemu dengan sobat lama kembali
Lupakan salahnya dan buka lembaran baru.

Bandit Pangaratto™ on 19 January 2010 at 14:50 said...

ya...
itu sebuah kesempatan untuk meningkatkan kadar kesabaran...

Memaafkan, melupakan kesalahan itu hal yg sulit... saking sulitnya, saat kamu bisa melakukannya, kamu meningkat setingkat lebih sabar...

Noor's blog on 19 January 2010 at 18:34 said...

Sulit...memang sulit ! kalau saya jadi mba Isna, mungkin saya bisa menerimanya kembali sebagai seorang teman tapi saya tak akan bisa memaafkan penghianatannya...

Tapi saya setuju dengan Bandit....

reni on 19 January 2010 at 22:50 said...

Sebuah keputusan yang sulit memang..., tapi aku yakin apa yang mbak putuskan itulah yang terbaik.

anyin on 20 January 2010 at 11:58 said...

sama kayak mbak sarii hehe.. tapi bener deh kehilangan teman bisa jadi sangat sakit

Dhe on 20 January 2010 at 13:26 said...

menjadi tua itu mudah, tetapi menjadi dewasa adalah sbuah pilihan yang susah. menjadi dewasa jg sebuah keputusan yang bijak :D

Sang Cerpenis bercerita on 20 January 2010 at 13:49 said...

yup, maafkan dia. memang tak mudah tapi itu menunjukkan sikap yg dewasa

CÜpú kisяÜh on 20 January 2010 at 15:48 said...

memang sulit menemukan kepercayaan yang udah hilang mbak :)
tapi disini mbak di tantang untuk memilih yang mana yang terbaik buat mbak :)

ninneta on 20 January 2010 at 16:06 said...

Salam sobat, datang mempererat silaturahmi... maaf baru mampir lagi... kesehatan memburuk baru membaik... Semoga selalu dalam kebahagiaan...

Ninneta

abeng beng /arjopedal on 21 January 2010 at 01:39 said...

Salam sobat untuk memaafkan kesalahan orang lain memang sangatlah berat tetapi memeafkan merupakan tindakan yang mulya

Post a Comment

Makasih banget deh udah nyempat-nyempatin baca... lebih makasih lagi kalau ditambah komennya...

My Blog List (testing what a long title looks like)

 
Blog Design by Template-Mama.