16 December 2009

Commitment

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 22:20 2 ocehan mereka
I am only one,
But still I am one.
I cannot do everything,
But still I can do something.
And because I cannot do everything,
I will not refuse to do
the something that I can do.


Edward Everett Hale

Lelaki Itu Adalah Bapak

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 09:58 4 ocehan mereka

Sebuah catatan kecil kembali terbuka
di hadapan saya.
Sebuah catatan yang mengingatkan saya
akan seorang Lelaki Terhebat
dalam hidup saya.

Bapak.

Seorang laki-laki berpendirian keras
yang mulai terlihat semakin dikalahkan oleh usia.




Dulu saya sama Bapak jarang akur. Kami berdua selalu bertengkar. Atau lebih tepatnya... Bapak yang sering omelin saya, sementara saya cuma bisa ngomel dalam hati. Saya sendiri bingung, salah saya sebenernya dimana, tapi saya selalu dianggap salah sama Bapak.

Saya masih ingat banget hal paling menyakitkan yang pernah diucapkan Bapak ke saya : "Kamu itu kalau nda sekolah, ya ngerjain peer di rumah. Nda adakah hal yang bermanfaat yang bisa kamu kerjain...?"

Saya bingung mesti jawab seperti apa, yang saya pikirkan saat itu adalah kok Bapak sampe ngomong seperti itu. Saya ga habis pikir dengan cara berpikir Bapak. Saat itu saya ngerasa sudah melakukan yang terbaik untuk membuat Bapak bangga. Saya sekolah di sekolah unggulan yang mengharuskan saya terpenjara dalam rutinitas yang begitu melelahkan. Saya sudah harus berangkat ke sekolah jam 6.30 pagi karena kelas saya dimulai jam 7. Saya harus menguras seluruh isi otak saya selama di sekolah dan baru bisa bernafas lega jam 4 sore. Tiba di rumah jam 5.30 sore, tapi saya cuma bisa istirahat sebentar untuk mandi dan makan sebelum saya kembali menghadapi buku pelajaran, mengerjakan peer, dan mempersiapkan diri untuk tes yang bisa datang sewaktu-waktu dari guru-guru saya. Jam 8 malam saya sudah bener-bener cape dan memilih untuk tidur awal, karena saya tau besoknya saya akan kembali menghadapi rutinitas yang sama... dan melelahkan. Semua saya lakukan agar saya tetap bisa memperoleh nilai bagus.

Dan saya melakukannya untuk membuat Bapak bangga sama saya.

Tapi ternyata cara saya itu dianggap salah sama Bapak.

Satu hal lagi, Bapak punya satu prinsip yang menurut saya sangat kuat. Hal yang paling beliau utamakan untuk anak-anak beliau adalah pendidikan. Itu sebabnya Bapak memaksakan saya untuk kuliah. Saya agak ragu-ragu saat itu, karena saya tau bagaimana kondisi keuangan keluarga kami. Kakak saya sudah kuliah di luar kota dan perlu biaya yang ga sedikit. Saya ga mau merepotkan Bapak dengan ikut-ikutan kuliah di luar kota juga. Saya sudah bilang sama Bapak saya kuliah di Balikpapan aja, ga perlu keluar kota, biar ga harus keluar banyak biaya. Saya bisa pilih salah satu lembaga pendidikan yang ada di sana, kuliah setahun, dan saya sudah bisa langsung magang di perusahaan. Tapi Bapak punya kecenderungan rasa gengsi yang tinggi. Beliau bilang saya ga bakalan jadi apa-apa kalau cuma sekolah di lembaga pendidikan.

Saya turuti lah kemauan Bapak. Saya berangkat ke Banjarmasin, menyusul kakak saya yang sudah tiga tahun berada disana, dan memulai kuliah di tempat yang sebenernya tidak terlalu saya inginkan.

Dan saya tau akhirnya saat itu datang juga. Ketika kakak saya sudah menyelesaikan kuliahnya dan tertinggal saya sendiri di Banjarmasin, Bapak juga harus berhenti dari pekerjaannya. Keadaan saya mulai mengkhawatirkan. Bapak mulai kebingungan untuk membiayai kuliah saya dan pada akhirnya mencetuskan satu hal yang ga pernah ingin saya dengar.

Bapak meminta saya untuk berhenti kuliah. Padahal saya sudah semester lima, sudah terlalu sayang kalau saya harus meninggalkan kuliah. Saya tetap ingin mempertahankannya. Maka saya pun memutuskan untuk mencari pekerjaan. Hanya sedikit pekerjaan yang bisa saya lakukan sambil kuliah. Dan menjadi penyiar adalah salah satunya.

Semenjak itulah pikiran saya terbuka. Semenjak saya mencoba untuk tidak tergantung pada orang tua, saya pun belajar arti kekerasan hidup yang sebenarnya. Dan entah apa hubungan yang sebenernya, saya juga mulai belajar memahami bagaimana cara berpikir Bapak. Dan meskipun kekesalan itu masih ada, saya belajar untuk menerima keadaan tersebut.

Bahwa saya dan Bapak ternyata sebenernya punya banyak persamaan. Bahwa sebenernya kami saling menyayangi lebih dari yang kami sadari. Bahwa sebenarnya Bapak juga ingin melakukan sesuatu yang bisa membahagiakan saya nantinya. Tapi ternyata cara yang Bapak lakukan telah saya anggap salah sebelumnya. See...? We do have the similarity.

Bapak, dengan segala kekurangan yang dimilikinya, seperti yang pasti juga dimiliki semua orang, termasuk saya, telah mengajarkan saya satu hal. Selama kita memiliki keinginan, kita pasti menemukan jalan untuk mencapainya.

Bapak, Lelaki Terhebat dalam hidup saya


15 December 2009

Be Positive

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 22:49 2 ocehan mereka
When we walk to the edge of all the light we have
and take the step into the darkness of the unknown,
we must believe that one of two things will happen...
There will be something solid for us to stand on
or we will be taught to fly.


Patrick Overton

Pikiran Yang Aneh

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 15:50 3 ocehan mereka
"I use the Pensieve. One simply siphons the excess thoughts from one's mind, pours them into the basin, and examines them at one's leisure. It becomes easier to spot patterns and links, you understand, when they are in this form." (Albus Dumbledore, HP & GF, pg. 386)
Yah, mungkin asyik banget kalau saya juga punya Pensieve seperti yang dipunya oleh Dumbledore. Semua kenangan bisa saya tuangkan dalam satu wadah yang bisa saya liat sewaktu-waktu, tanpa harus takut saya akan lupa dengan kenangan saya (kecuali kalau saya lupa tempat penyimpanannya...).

But anyway, kenapa juga saya harus ngomongin Pensieve...?
Sebenernya tadi saya keingat sama pikiran-pikiran aneh yang ada di kepala saya tepat sebulan yang lalu. Waktu itu saya sedang mengikuti tes untuk bisa ikut terlibat dalam salah satu instansi pemerintah. Dan kalau bukan karena saya ingin menghindari teriakan-teriakan protes yang bikin telinga saya sakit dari orang rumah, saya rela nganggur daripada harus jadi salah satu pegawai mereka.

And, that was the day...

Saya harus menghadapi 2 x 100 soal terkutuk yang bener-bener membangkitkan nafsu saya untuk merobek-robek tuh soal terus saya jejalkan ke dalam mulut pengawas yang berdiri bengong di depan kelas...

Soal apaan sih ini...? Ga nyambung sama jabatan yang saya lamar...

Jadi beberapa pertanyaannya seperti ini...

Yang mana dari rumah adat di bawah ini yang bukan merupakan rumah adat Kalimantan Selatan?
Is it important for me? Dari lahir saya ada di propinsi yang berbeda, Kalimantan Timur. Saya taunya rumah Panjang dan rumah Lamin. Kenapa ga nanya nama Gubernurnya aja, itu lebih masuk akal...

Sistem perekonomian apa yang dianut Vietnam setelah bergabung dalam ASEAN?
What...? Sebenernya saya tinggal dimana sih? Soal-soal ini dibuatnya dimana? Saya nantinya kerja di pemerintahan negara mana? Indonesia toh. Apa urusan saya sama Vietnam...

Belum lagi soal-soal tes skolastiknya...

Umur Andi 2 1/4 kali umur adiknya. Jika rasio umur keduanya adalah 4 : 1, maka umur Andi adalah...
Ngapain juga mesti tanya ke saya, tanya langsung sama Andinya, repot banget sih...

Eko melakukan perjalanan dari kota A ke kota C yang berjarak 100 km. Dia berangkat dari kota A jam 07.30 dengan kecepatan 30 km/jam dan tiba di kota B jam 09.00. Di kota B dia istirahat selama 30 menit sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Jika Eko tiba di kota C jam 11.30, berapa kecepatan yang dia tempuh?
Baca soalnya aja saya udah males, apalagi ngejawabnya...http://www.emocutez.com

Dan yang jelas, masih banyak soal-soal lainnya yang bikin saya ngomel-ngomel dalam hati setiap kali ngebacanya. Bikin saya laper. Dan bikin saya ngantuk... http://www.emocutez.com

Dan apa tujuan saya nulis semua ini...? Iseng aja. Kebetulan saya ingat, langsung aja saya tulis. Anggaplah blog ini saya jadikan Pensieve yang bisa saya liat sewaktu-waktu, sekedar mengingatkan diri sendiri kalau saya pernah mengalaminya...

Ga nyambung ah... Kabur aja deh...http://www.emocutez.com

14 December 2009

Kita Semua Pernah Kecewa

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 13:56 5 ocehan mereka
Mau adil atau ga, itulah hidup... Ga adil buat kita, mungkin justru adil buat orang lain..."
Yah, kira-kira seperti itu yang saya tulis di status fesbuk saya. Lagi-lagi sebuah kekecewaan yang semakin menambah perbendaharaan rintangan hidup yang harus (dan harus bisa) saya hadapi. Tapi saya juga sudah janji sama diri saya sendiri, saya ga akan berkeluh kesah... TIDAK AKAN. Karena sejujurnya, saya dulunya memang bukan orang seperti itu. Dan saya ingin mengembalikan jati diri saya tersebut.

Kali ini saya justru ingin bercerita tentang kekecewaan dan mungkin rasa ketidakadilan yang juga dialami oleh salah seorang teman saya. Kekecewaan yang sama seperti yang saya rasakan, hanya saja dengan porsi yang berbeda.

Kekecewaan yang dialami oleh teman saya ini jauh lebih besar...

Saya agak susah menceritakan gimana kejadian yang sebenernya. Tapi mungkin sepenggal obrolan saya dengan teman saya ini bisa menggambarkan dengan jelas kekecewaan yang saya maksud...

Teman : Is, ternyata bener kata Nuna, si A dan si B lulus tes...

Saya : Jadi emang bener...?

Teman : Iya... Mereka ikut tes di daerah Z, disana peminatnya memang sedikit...

Saya : Yah... jujur aja ya, Nin... ini cuma bukan masalah peminat...

Teman : Iya, ku juga tau...

Saya : Ku ga bermaksud apa-apa, harusnya kita memang seneng mereka lulus, tapi kok kayanya gimana ya... ga adil aja gitu...

Teman : Itu dia... Aku yang kemarin mati-matian bantuin si A, tapi kenapa justru aku kok ga berhasil, malah dia yang lulus...

Saya : Mereka berdua kayanya terlalu dikasih kemudahan sama hidup...

Teman : Ini bener-bener ga adil, Is...

Yah, saya tau kekecewaan yang dirasakan oleh teman saya ini. Saya sudah liat bagaimana dulu dia bela-belain nemenin si A ngurus semua urusan dia sampai akhirnya si A lulus kuliah. Saya ngerasa orang yang pada akhirnya paling pantas memperoleh imbalan hidup adalah teman saya ini. Dia termasuk perempuan yang rajin shalat, ga macem-macem, pekerja keras, dan sabar luar biasa... Sudah seharusnya dia yang pada akhirnya berhasil mencapai apa yang dia cita-citakan.

Tapi ternyata tidak... dan dia merasakan kekecewaan yang teramat besar tehadap hidup... dan Tuhan. Itu yang sempat dia katakan kemarin, dia merasa dikecewakan oleh Tuhan karena diperlakukan tidak adil. Aduh... saya jadi ngeri dengernya.

Tapi saya tau kok gimana karakter teman saya ini. Mungkin untuk beberapa hari dia akan memprotes Tuhan atas ketidakadilan yang dia alami, tapi hari-hari berikutnya dia pasti akan bangkit lagi dan kembali menyayangi Tuhan.

Meskipun begitu tetap saja ada banyak hal yang perlu direnungkan kembali kalau ternyata tiba-tiba aja kita ngerasa Tuhan mulai "bersikap" tidak adil pada kita. Salah satunya adalah renungan yang sudah ditulis Mba Fanny di blognya :

Memang ada saat-saat dimana kita lebih mudah protes dan menyalahkan Tuhan daripada bersyukur untuk kejadian yang tidak kita inginkan. Terkadang kita tak menyadari bahwa Tuhan sedang memakai hidup kita untuk memberkati orang lain, melalui cara yang tidak kita pahami.

NOTE : BERSYUKURLAH UNTUK SEMUA KEJADIAN KARENA MUNGKIN SAJA TUHAN SEDANG BEKERJA DIBALIK SEMUA ITU.
Mudah-mudahan aja teman saya ini ga sampai begitu jauh terpuruk dalam kekecewaannya, karena rasa kecewa yang dia alami pasti juga pernah dialami oleh orang lain, dan juga saya...

16 December 2009

Commitment

Posted by Si_Isna at 22:20 2 comments
I am only one,
But still I am one.
I cannot do everything,
But still I can do something.
And because I cannot do everything,
I will not refuse to do
the something that I can do.


Edward Everett Hale

Lelaki Itu Adalah Bapak

Posted by Si_Isna at 09:58 4 comments

Sebuah catatan kecil kembali terbuka
di hadapan saya.
Sebuah catatan yang mengingatkan saya
akan seorang Lelaki Terhebat
dalam hidup saya.

Bapak.

Seorang laki-laki berpendirian keras
yang mulai terlihat semakin dikalahkan oleh usia.




Dulu saya sama Bapak jarang akur. Kami berdua selalu bertengkar. Atau lebih tepatnya... Bapak yang sering omelin saya, sementara saya cuma bisa ngomel dalam hati. Saya sendiri bingung, salah saya sebenernya dimana, tapi saya selalu dianggap salah sama Bapak.

Saya masih ingat banget hal paling menyakitkan yang pernah diucapkan Bapak ke saya : "Kamu itu kalau nda sekolah, ya ngerjain peer di rumah. Nda adakah hal yang bermanfaat yang bisa kamu kerjain...?"

Saya bingung mesti jawab seperti apa, yang saya pikirkan saat itu adalah kok Bapak sampe ngomong seperti itu. Saya ga habis pikir dengan cara berpikir Bapak. Saat itu saya ngerasa sudah melakukan yang terbaik untuk membuat Bapak bangga. Saya sekolah di sekolah unggulan yang mengharuskan saya terpenjara dalam rutinitas yang begitu melelahkan. Saya sudah harus berangkat ke sekolah jam 6.30 pagi karena kelas saya dimulai jam 7. Saya harus menguras seluruh isi otak saya selama di sekolah dan baru bisa bernafas lega jam 4 sore. Tiba di rumah jam 5.30 sore, tapi saya cuma bisa istirahat sebentar untuk mandi dan makan sebelum saya kembali menghadapi buku pelajaran, mengerjakan peer, dan mempersiapkan diri untuk tes yang bisa datang sewaktu-waktu dari guru-guru saya. Jam 8 malam saya sudah bener-bener cape dan memilih untuk tidur awal, karena saya tau besoknya saya akan kembali menghadapi rutinitas yang sama... dan melelahkan. Semua saya lakukan agar saya tetap bisa memperoleh nilai bagus.

Dan saya melakukannya untuk membuat Bapak bangga sama saya.

Tapi ternyata cara saya itu dianggap salah sama Bapak.

Satu hal lagi, Bapak punya satu prinsip yang menurut saya sangat kuat. Hal yang paling beliau utamakan untuk anak-anak beliau adalah pendidikan. Itu sebabnya Bapak memaksakan saya untuk kuliah. Saya agak ragu-ragu saat itu, karena saya tau bagaimana kondisi keuangan keluarga kami. Kakak saya sudah kuliah di luar kota dan perlu biaya yang ga sedikit. Saya ga mau merepotkan Bapak dengan ikut-ikutan kuliah di luar kota juga. Saya sudah bilang sama Bapak saya kuliah di Balikpapan aja, ga perlu keluar kota, biar ga harus keluar banyak biaya. Saya bisa pilih salah satu lembaga pendidikan yang ada di sana, kuliah setahun, dan saya sudah bisa langsung magang di perusahaan. Tapi Bapak punya kecenderungan rasa gengsi yang tinggi. Beliau bilang saya ga bakalan jadi apa-apa kalau cuma sekolah di lembaga pendidikan.

Saya turuti lah kemauan Bapak. Saya berangkat ke Banjarmasin, menyusul kakak saya yang sudah tiga tahun berada disana, dan memulai kuliah di tempat yang sebenernya tidak terlalu saya inginkan.

Dan saya tau akhirnya saat itu datang juga. Ketika kakak saya sudah menyelesaikan kuliahnya dan tertinggal saya sendiri di Banjarmasin, Bapak juga harus berhenti dari pekerjaannya. Keadaan saya mulai mengkhawatirkan. Bapak mulai kebingungan untuk membiayai kuliah saya dan pada akhirnya mencetuskan satu hal yang ga pernah ingin saya dengar.

Bapak meminta saya untuk berhenti kuliah. Padahal saya sudah semester lima, sudah terlalu sayang kalau saya harus meninggalkan kuliah. Saya tetap ingin mempertahankannya. Maka saya pun memutuskan untuk mencari pekerjaan. Hanya sedikit pekerjaan yang bisa saya lakukan sambil kuliah. Dan menjadi penyiar adalah salah satunya.

Semenjak itulah pikiran saya terbuka. Semenjak saya mencoba untuk tidak tergantung pada orang tua, saya pun belajar arti kekerasan hidup yang sebenarnya. Dan entah apa hubungan yang sebenernya, saya juga mulai belajar memahami bagaimana cara berpikir Bapak. Dan meskipun kekesalan itu masih ada, saya belajar untuk menerima keadaan tersebut.

Bahwa saya dan Bapak ternyata sebenernya punya banyak persamaan. Bahwa sebenernya kami saling menyayangi lebih dari yang kami sadari. Bahwa sebenarnya Bapak juga ingin melakukan sesuatu yang bisa membahagiakan saya nantinya. Tapi ternyata cara yang Bapak lakukan telah saya anggap salah sebelumnya. See...? We do have the similarity.

Bapak, dengan segala kekurangan yang dimilikinya, seperti yang pasti juga dimiliki semua orang, termasuk saya, telah mengajarkan saya satu hal. Selama kita memiliki keinginan, kita pasti menemukan jalan untuk mencapainya.

Bapak, Lelaki Terhebat dalam hidup saya


15 December 2009

Be Positive

Posted by Si_Isna at 22:49 2 comments
When we walk to the edge of all the light we have
and take the step into the darkness of the unknown,
we must believe that one of two things will happen...
There will be something solid for us to stand on
or we will be taught to fly.


Patrick Overton

Pikiran Yang Aneh

Posted by Si_Isna at 15:50 3 comments
"I use the Pensieve. One simply siphons the excess thoughts from one's mind, pours them into the basin, and examines them at one's leisure. It becomes easier to spot patterns and links, you understand, when they are in this form." (Albus Dumbledore, HP & GF, pg. 386)
Yah, mungkin asyik banget kalau saya juga punya Pensieve seperti yang dipunya oleh Dumbledore. Semua kenangan bisa saya tuangkan dalam satu wadah yang bisa saya liat sewaktu-waktu, tanpa harus takut saya akan lupa dengan kenangan saya (kecuali kalau saya lupa tempat penyimpanannya...).

But anyway, kenapa juga saya harus ngomongin Pensieve...?
Sebenernya tadi saya keingat sama pikiran-pikiran aneh yang ada di kepala saya tepat sebulan yang lalu. Waktu itu saya sedang mengikuti tes untuk bisa ikut terlibat dalam salah satu instansi pemerintah. Dan kalau bukan karena saya ingin menghindari teriakan-teriakan protes yang bikin telinga saya sakit dari orang rumah, saya rela nganggur daripada harus jadi salah satu pegawai mereka.

And, that was the day...

Saya harus menghadapi 2 x 100 soal terkutuk yang bener-bener membangkitkan nafsu saya untuk merobek-robek tuh soal terus saya jejalkan ke dalam mulut pengawas yang berdiri bengong di depan kelas...

Soal apaan sih ini...? Ga nyambung sama jabatan yang saya lamar...

Jadi beberapa pertanyaannya seperti ini...

Yang mana dari rumah adat di bawah ini yang bukan merupakan rumah adat Kalimantan Selatan?
Is it important for me? Dari lahir saya ada di propinsi yang berbeda, Kalimantan Timur. Saya taunya rumah Panjang dan rumah Lamin. Kenapa ga nanya nama Gubernurnya aja, itu lebih masuk akal...

Sistem perekonomian apa yang dianut Vietnam setelah bergabung dalam ASEAN?
What...? Sebenernya saya tinggal dimana sih? Soal-soal ini dibuatnya dimana? Saya nantinya kerja di pemerintahan negara mana? Indonesia toh. Apa urusan saya sama Vietnam...

Belum lagi soal-soal tes skolastiknya...

Umur Andi 2 1/4 kali umur adiknya. Jika rasio umur keduanya adalah 4 : 1, maka umur Andi adalah...
Ngapain juga mesti tanya ke saya, tanya langsung sama Andinya, repot banget sih...

Eko melakukan perjalanan dari kota A ke kota C yang berjarak 100 km. Dia berangkat dari kota A jam 07.30 dengan kecepatan 30 km/jam dan tiba di kota B jam 09.00. Di kota B dia istirahat selama 30 menit sebelum kembali melanjutkan perjalanan. Jika Eko tiba di kota C jam 11.30, berapa kecepatan yang dia tempuh?
Baca soalnya aja saya udah males, apalagi ngejawabnya...http://www.emocutez.com

Dan yang jelas, masih banyak soal-soal lainnya yang bikin saya ngomel-ngomel dalam hati setiap kali ngebacanya. Bikin saya laper. Dan bikin saya ngantuk... http://www.emocutez.com

Dan apa tujuan saya nulis semua ini...? Iseng aja. Kebetulan saya ingat, langsung aja saya tulis. Anggaplah blog ini saya jadikan Pensieve yang bisa saya liat sewaktu-waktu, sekedar mengingatkan diri sendiri kalau saya pernah mengalaminya...

Ga nyambung ah... Kabur aja deh...http://www.emocutez.com

14 December 2009

Kita Semua Pernah Kecewa

Posted by Si_Isna at 13:56 5 comments
Mau adil atau ga, itulah hidup... Ga adil buat kita, mungkin justru adil buat orang lain..."
Yah, kira-kira seperti itu yang saya tulis di status fesbuk saya. Lagi-lagi sebuah kekecewaan yang semakin menambah perbendaharaan rintangan hidup yang harus (dan harus bisa) saya hadapi. Tapi saya juga sudah janji sama diri saya sendiri, saya ga akan berkeluh kesah... TIDAK AKAN. Karena sejujurnya, saya dulunya memang bukan orang seperti itu. Dan saya ingin mengembalikan jati diri saya tersebut.

Kali ini saya justru ingin bercerita tentang kekecewaan dan mungkin rasa ketidakadilan yang juga dialami oleh salah seorang teman saya. Kekecewaan yang sama seperti yang saya rasakan, hanya saja dengan porsi yang berbeda.

Kekecewaan yang dialami oleh teman saya ini jauh lebih besar...

Saya agak susah menceritakan gimana kejadian yang sebenernya. Tapi mungkin sepenggal obrolan saya dengan teman saya ini bisa menggambarkan dengan jelas kekecewaan yang saya maksud...

Teman : Is, ternyata bener kata Nuna, si A dan si B lulus tes...

Saya : Jadi emang bener...?

Teman : Iya... Mereka ikut tes di daerah Z, disana peminatnya memang sedikit...

Saya : Yah... jujur aja ya, Nin... ini cuma bukan masalah peminat...

Teman : Iya, ku juga tau...

Saya : Ku ga bermaksud apa-apa, harusnya kita memang seneng mereka lulus, tapi kok kayanya gimana ya... ga adil aja gitu...

Teman : Itu dia... Aku yang kemarin mati-matian bantuin si A, tapi kenapa justru aku kok ga berhasil, malah dia yang lulus...

Saya : Mereka berdua kayanya terlalu dikasih kemudahan sama hidup...

Teman : Ini bener-bener ga adil, Is...

Yah, saya tau kekecewaan yang dirasakan oleh teman saya ini. Saya sudah liat bagaimana dulu dia bela-belain nemenin si A ngurus semua urusan dia sampai akhirnya si A lulus kuliah. Saya ngerasa orang yang pada akhirnya paling pantas memperoleh imbalan hidup adalah teman saya ini. Dia termasuk perempuan yang rajin shalat, ga macem-macem, pekerja keras, dan sabar luar biasa... Sudah seharusnya dia yang pada akhirnya berhasil mencapai apa yang dia cita-citakan.

Tapi ternyata tidak... dan dia merasakan kekecewaan yang teramat besar tehadap hidup... dan Tuhan. Itu yang sempat dia katakan kemarin, dia merasa dikecewakan oleh Tuhan karena diperlakukan tidak adil. Aduh... saya jadi ngeri dengernya.

Tapi saya tau kok gimana karakter teman saya ini. Mungkin untuk beberapa hari dia akan memprotes Tuhan atas ketidakadilan yang dia alami, tapi hari-hari berikutnya dia pasti akan bangkit lagi dan kembali menyayangi Tuhan.

Meskipun begitu tetap saja ada banyak hal yang perlu direnungkan kembali kalau ternyata tiba-tiba aja kita ngerasa Tuhan mulai "bersikap" tidak adil pada kita. Salah satunya adalah renungan yang sudah ditulis Mba Fanny di blognya :

Memang ada saat-saat dimana kita lebih mudah protes dan menyalahkan Tuhan daripada bersyukur untuk kejadian yang tidak kita inginkan. Terkadang kita tak menyadari bahwa Tuhan sedang memakai hidup kita untuk memberkati orang lain, melalui cara yang tidak kita pahami.

NOTE : BERSYUKURLAH UNTUK SEMUA KEJADIAN KARENA MUNGKIN SAJA TUHAN SEDANG BEKERJA DIBALIK SEMUA ITU.
Mudah-mudahan aja teman saya ini ga sampai begitu jauh terpuruk dalam kekecewaannya, karena rasa kecewa yang dia alami pasti juga pernah dialami oleh orang lain, dan juga saya...

My Blog List (testing what a long title looks like)

 
Blog Design by Template-Mama.