Showing posts with label Inside Of Me. Show all posts
Showing posts with label Inside Of Me. Show all posts

19 January 2010

Sebuah Keputusan

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 13:09 11 ocehan mereka
gambar diambil disini

Siapa yang mengira bahwa tahun 2010 saya akan diawali dengan sebuah pergolakan batin antara ego dan keinginan menjadi dewasa. Tercabik antara dendam masa lalu dan keinginan untuk bermetamorfosa bener-bener berat rasanya.

Tepat tanggal 1 Januari 2010, seorang teman lama menyapa saya via chat online. Saya ga tau dari mana dia tau user ID saya (mungkin dia tanya teman saya yang lain), tapi bukan itu yang jadi masalah.

Kehadiran dia kembali membuka luka lama saya. Sebuah luka dalam yang disebabkan oleh kekecewaan gigantis dari seorang sahabat.

Dia pernah jadi sahabat saya. Bahkan sahabat terdekat yang pernah saya miliki. Seseorang yang pernah menjadi kepercayaan terbesar saya. Seseorang yang dengan ikhlas hati saya terima semua kelebihan dan kekurangan serta "perbedaan besar" di antara kami berdua. Saya bahkan bisa terima sikap dia yang selalu menganggap saya saingannya, entah itu dalam hal akademis, pertemanan, atau pun percintaan.

Tapi satu hal yang bener-bener ga bisa saya terima adalah pengkhianatan kepercayaan yang pernah dia lakukan.

Saya ga perlu menjelaskan secara rinci apa yang pernah dia lakukan, tapi yang jelas itu cukup membuat saya berhenti untuk mempercayainya, atau yang lebih parah, berhenti untuk mengenal yang namanya sahabat.

Dan dia hadir lagi. Saya sempat ngerasa bingung. Sebagian hati saya masih sangat membencinya, tapi bagian hati saya yang lain justru sangat mengharapkan saya untuk bisa mulai belajar menerima kesalahan, sebesar apapun kesalahan itu.

Saya ga pernah mau bikin resolusi setiap tahun, tapi saya selalu berharap saya bisa bersikap lebih baik lagi di setiap harinya.
Dan saya pun tau apa yang harus (dan ingin) saya lakukan.
Saya belajar memaafkan dia.
Saya belajar untuk menerima pengkhianatan yang pernah dia lakukan.
Saya mencoba untuk berpikir positif bahwa mungkin dia melakukannya untuk alasan yang meskipun pada saat itu ga bisa saya terima, tapi mungkin ternyata itu adalah satu-satunya yang bisa dia lakukan.

Saya pun tau, saya juga pernah melakukan kesalahan. Sungguh ga adil kalau saya ga bisa menerima kesalahan orang lain sementara saya juga ga luput dari salah dan khilaf. Dan salah satu cara untuk menebusnya adalah dengan membuka kembali jalinan pertemanan itu.

Saya hanya berharap bahwa apa yang saya lakukan ini mampu membuat saya bisa berpikir dan bersikap lebih dewasa lagi.

Welcome back friend. Kita mungkin sudah ga bisa lagi jadi sahabat, tapi kita masih bisa berteman. Mungkin itu yang terbaik yang bisa kita lakukan sekarang.

28 December 2009

Ayah

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 12:58 8 ocehan mereka
Saya membacanya di sebuah blog, dan ingin saya bagikan lagi kepada kalian yang membacanya...

Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya,
tatkala tanpa sengaja dia melihat
Ayahnya sedang mengusap wajahnya
yang mulai berkerut-merut
dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk,
disertai suara batuk-batuknya.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa,
tetapi dia tetap saja penasaran,
mengapa wajah Ayahnya yang tadinya tampan
menjadi berkerut-merut
dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ?

Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi.
Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar
suara yang sangat lembut, namun jelas sekali.
Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu
ternyata suatu rangkaian kalimat
sebagai jawaban rasa kepenasarannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan Laki-laki,
aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga
serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga,
dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap ujungnya,
agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi."

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot
untuk membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya
dan kegagahannya harus cukup kuat pula
untuk melindungi seluruh keluarganya."

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha
mencari sesuap nasi yang berasal dari tetes keringatnya sendiri
yang halal dan bersih,
agar keluarganya tidak terlantar,
walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya."

"Ku-berikan keperkasaan dan mental baja
yang akan membuat dirinya pantang menyerah,
demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari,
demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan
karena tersiram hujan dan dihembus angin,
dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya,
dan yang selalu dia ingat,
adalah disaat semua orang menanti kedatangannya
dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya."

"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan
yang akan membuat dirinya selalu berusaha
merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah,
walaupun disetiap perjalanan hidupnya
keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya."

"Ku-berikan perasaan keras dan gigih
untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya,
di dalam kondisi dan situasi apapun juga,
walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya,
melukai hatinya.
Padahal perasaannya itu pula
yang telah memberikan perlindungan rasa aman
pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap.
Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan
bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya
agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara."

"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya
untuk memberikan pengertian dan kesadaran
terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang,
walaupun seringkali ditentang bahkan dilecehkan oleh anak-anaknya."

"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya
untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan,
bahwa Isteri yang baik
adalah Isteri yang setia terhadap Suaminya,
Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa menemani,
dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka,
walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji
setiap kesetiaan yang diberikan kepada Isteri,
agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi
serta saling menyayangi."

"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti,
bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya
untuk mencari dan menemukan cara
agar keluarganya bisa hidup didalam keluarga sakinah
dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan
bahwa sebagai Laki-laki yang bertanggung jawab
terhadap seluruh keluarganya
senantiasa berusaha mencurahkan
sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya
demi kelangsungan hidup keluarganya."

"Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung-jawab penuh
sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga,
agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya.
Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki
oleh Laki-laki,
walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini
adalah amanah di dunia dan akhirat."

Terbangun anak wanita itu,
dan segera dia berlari, bersuci, berwudhu dan melakukan shalat malam
hingga menjelang subuh.
Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdzikir,
ketika Ayahnya berdiri
anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya.

"Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Ayah."


24 December 2009

Yes, I'm Left-Handed

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 10:38 11 ocehan mereka
gambar diambil disini

Ya, saya memang kidal, terus memangnya kenapa.
Apa itu sesuatu yang salah...?
Kita tinggal di negara yang (katanya) demokratis toh...
Kita juga (katanya) menghargai perbedaan toh...
Trus apa jadi masalah kalau saya left-handed.

Saya ga tinggal di jaman dulu dimana seorang pria lebih memilih perempuan yang tidak kidal, dan jika mendapati istrinya kidal maka si istri akan diceraikan.
Saya juga ga tinggal di komunitas sesat yang mengatakan kalau orang kidal itu adalah budak iblis.

Saya tinggal di tempat yang menurut saya paling nyaman dan saya tinggal bersama orang-orang yang bisa menerima saya apa adanya.
Lalu kenapa kalian masih mempermasalahkan kekidalan saya...?

Saya ga pernah ingin didiskriminasikan cuma karena saya kidal.
Saya juga ga mau dikasihani cuma karena saya termasuk golongan minoritas.
Saya ga pernah menganggap suatu masalah jika kursi kampus yang salah satu sandaran tangannya dijadikan meja tulis hanya diperuntukan bagi mahasiswa yang terbiasa menulis dengan tangan kanan.
Lalu kenapa kalian harus meributkannya.

Sudahlah...
Saya tau kalian mungkin bermaksud untuk menunjukkan simpati kalian.
Tapi kalau terus-terusan seperti itu, lama-lama justru kalian yang mendiskriminasikan saya.

Saya bangga kok dengan kekidalan saya.
Bahkan banyak tokoh populer yang juga ternyata kidal.
Salah satunya malahan adalah tokoh favorit saya, Leonardo Da Vinci.
Dan dia ga pernah peduli dengan anggapan orang tentang dia yang left-handed, padahal dia hidup di jaman yang masih sangat terikat dengan hal-hal yang seharusnya seperti "itu", sementara dia sendiri bisa dibilang "tidak normal".
Lalu kenapa saya tidak bisa seperti dia...

Kidal adalah anugerah yang diberikan oleh Tuhan.
Saya berani mengatakannya demikian.
Bukankah kitab saya, Al Qur'an, juga ditulis dari kanan ke kiri.
Tuhan menyayangi saya dengan memberikan kemudahan itu untuk saya jika saya ingin menuliskan kembali ayat-ayat-Nya.
Lalu kenapa kalian harus merasa prihatin dengan keadaan saya.

Saya bangga menjadi kidal, karena sekidal-kidalnya saya, saya masih bisa melakukan segala sesuatu dengan kedua tangan saya.
So just, cut it off.
Masih banyak hal lain di luar sana yang lebih penting untuk diperhatikan daripada kekidalan saya.
Okey...
Am I make myself clear...?

23 December 2009

Indifference Doesn't Mean Similar

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 21:35 2 ocehan mereka
gambar diambil disini

Kehadiran sebuah blog tentu saja memberikan napas segar bagi kita yang memang menyukai dunia tulis menulis. Bahkan yang ga terlalu suka nulis pun tetap bisa numpahin uneg-unegnya dalam sebuah tulisan.

Terus apa aja yang bisa ditulis di sebuah blog? Banyak! Mau itu info atau cuma sekedar obrolan ga jelas, mau itu review film/buku atau cuma ngomentarin betapa jeleknya buku yang barusan aja dibaca, atau mau itu curhat atau cuma sekedar ngomel-ngomel, semuanya bisa diwujudkan dalam tulisan... *selama ga ada unsur SARA atau pornografi loh ya...*

Dan apa aja yang saya tulis di blog saya? Semua yang ada di kepala saya, semua yang saya liat dan dengar, dan semua yang membuat saya tergoda untuk merenungkannya.

Tapi karena begitu asyiknya saya dengan tulisan, saya terkadang sampai lupa kalau sebenarnya bukan cuma saya aja yang bisa mengonsumsinya. Saya nulis di blog toh, itu artinya pasti bakalan ada yang baca tulisan saya, berusaha memahami makna apa yang ingin saya sampaikan, dan jadi sedikit kebingungan kalau udah mentok untuk nyari jawaban.

Ya, just put the blame on me. Saya memang sedikit egois, saya akui itu. Terkadang saya nulis untuk sesuatu yang cuma saya pahami sendiri, sementara yang udah baca tulisan saya sampai harus mengerutkan kening cuma untuk memahaminya.

Untuk itu saya minta maaf...

Ini semua berawal dari postingan saya beberapa hari yang lalu tentang sebuah quotation berjudul It's Indifference, yang sukses bikin beberapa teman saya manggut-manggut ga mudeng. Hehee... maaf ya...

Sedikit cerita nih, quotation itu saya temukan di sebuah buku yang pernah saya baca sekitar tahun 2004an di sebuah perpustakaan kota. *Dulu saya sering banget ke perpustakaan cuma buat nongkrong sama buku-buku lama yang ternyata oke-oke.* Sayang banget saya ga ingat judul bukunya apa. Tapi ya udahlah, pokoknya yang jelas begitu saya baca empat baris kalimat itu, saya langsung tergugah (haiah... bahasanya...).

Saya baru sekali itu nemu kalimat yang bener-bener bikin saya mikir. Ya, saya juga pada awalnya kesulitan buat memahaminya. Tapi semakin saya baca, semakin saya dapat menangkap maksud dari si penulis. Atau mungkin sayanya aja yang maksain buat nemuin penjelasannya, entahlah.

Jadi, biarlah saya coba menjelaskan quotation tersebut berdasarkan pemahaman saya...

The opposite of love is not hate, it's indifference.
Kalau dipikir-pikir, semua orang juga sudah bisa nebak kalau lawan dari cinta adalah benci. Tapi kalau kita coba lebih pahami lagi, apa bener seperti itu? Menurut saya cinta dan benci adalah hal yang "satu". Mereka ga berbeda, tapi bukan berarti juga sama. Benci lahir dari sebuah cinta. Kekecewaan terhadap sesuatu yang kita cintai akan melahirkan benci. Cinta dan benci pada dasarnya berasal dari hal yang sama, kasih sayang. Yang membuat mereka dianggap berbeda adalah yang satu memiliki kasih sayang yang lebih banyak dibandingkan yang lain.

The opposite of art is not ugliness, it's indifference.
Apakah yang namanya seni selalu diidentikkan dengan hal yang indah-indah sehingga kalau ditanyakan apa lawan dari seni kita langsung menjawab: ketidak-indahan? Menurut saya jelas tidak. Sejak saya mulai mengenal hidup sampai sekarang, saya ga pernah berhasil menemukan apa lawan dari sebuah seni. Bahkan sesuatu yang tidak indah pun bisa dianggap seni, tergantung sudut pandang si penilai. Seni itu relatif. Seni tergantung pada tiap individu. Dan kalaupun saya tetap dipaksa untuk mencari sesuatu yang bertentangan tentang seni, atau keindahan, saya mungkin akan membandingkan tentang keindahan dan mereka yang tidak mau melihat keindahan itu.

The opposite of faith is not heresy, it's indifference.
Menurut saya keyakinan tetaplah keyakinan. Mau itu meyakini Tuhan, atau menyembah berhala, atau percaya pada dukun, atau tunduk pada ilmu pengetahuan, atau menjalankan sebuah ajaran yang menurut orang lain sesat, tapi menurut dia benar. Disini kita ga berbicara tentang baik atau buruknya sebuah keyakinan yang dianut. Semua orang punya hak untuk meyakini apapun yang menurut mereka paling benar. Disini kita mencoba memahami sebuah keyakinan sebagai fitrah seorang manusia. Hal paling mudah untuk mencari kebalikan atau lawan dari sebuah keyakinan adalah tidak yakin. Itupun saya ragukan. Mungkin memang benar ada orang-orang yang "tidak yakin", tapi toh kenyataannya mereka "meyakini" hal yang lain.

And the opposite of life is not death, it's indifference.
Kehidupan dan kematian. Saya tidak pernah menemukan perbedaan dari dua kata tersebut. Atau lebih tepatnya, kematian justru sebuah fase dalam kehidupan. Di agama saya, saya diajarkan lima fase kehidupan : Alam Ruh, alam dimana sebelum jasad manusia diciptakan. Fase selanjutnya kita menuju Alam Rahim, alam kandungan ibu tempat menyempurnakan jasad manusia dan penentuan kadar nasib kita didunia seperti hidup, rezeki, kapan dan dimana kita meninggal. Dan sekarang kita memasuki fase yang ketiga Alam Dunia, alam tempat ujian bagi manusia, siapakah diantara mereka yang paling baik amalannya. Dan masih ada 2 fase lagi yang kita akan lalui yaitu Alam Kubur ( alam barzakh), alam tempat menyimpan amal manusia, di alam ini Tuhan menyediakan dua keadaan, nikmat atau azab kubur. Dan alam terakhir yang harus kita lewati adalah Alam Akhirat ( alam tempat pembalasan amal-amal manusia ). Di alam ini Tuhan menentukan keputusan dua tempat untuk manusia, apakah ia akan menghuni surga atau menghuni neraka. Dan Kematian adalah jembatan yang harus kita lalui ketika meninggalkan Alam Dunia menuju ke Alam Kubur.

Jadi kira-kira seperti itulah pemahaman saya tentang quotation yang sudah pernah saya tuliskan. Mungkin ada beberapa (atau malah semuanya) yang sangat tidak sesuai dengan pemahaman kalian. Ga apa-apa kan...? Bukannya masing-masing kita memang diciptakan berbeda...?

Ya udahlah, itu aja yang bisa saya sharing buat kalian...
Saya udah cape banget nih... ngantuk...

12 December 2009

Kelahiran Kembali

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 13:01 4 ocehan mereka

Empat hari itu saya pakai untuk menyendiri, mengilas balik apa yang sudah saya tempuh selama ini, merenungkan setiap kegagalan yang harus saya hadapi, meresapi setiap konsekuensi dari kesalahan yang saya lakukan, dan pada akhirnya menikmati makna hidup yang sebenarnya.

Dan bagaimana rasanya...?

Entahlah, saya agak bingung menjelaskannya. Rasanya campur aduk.
Agak pahit...
Sedikit asam...
Lumayan manis...
Dan ternyata menyegarkan...

Akhirnya saya tau apa tujuan dari semua ini... mendewasakan saya.

Selama ini saya termasuk orang yang selalu sentimentil...
...mungkin karena saya selalu menyimpan semua masalah untuk saya sendiri.

Selama ini saya termasuk orang yang selalu terbawa emosi...
...mungkin karena saya selalu egois terhadap diri sendiri.

Selama ini saya termasuk orang yang selalu menangis dalam diam...
...mungkin karena saya selalu beranggapan bahwa menangis hanya menunjukkan bahwa saya orang yang lemah...

Ternyata selama ini saya sudah salah memperlakukan diri sendiri.
Crying doesn't indicate that you're weak. Since birth, it has always been a sign that you're alive.

Saya jadi teringat komen yang sempat dituliskan sama de asmara :
mo tau sesuatu, Na? sini saya bisikin..... "itulah hidup"
tidak selalu adil. tidak selalu sesuai dg yg diharapkan.

prepare for the worst, & try to less dependent to anyone but your own feet! Okay, Dear :)
Ya, hidup memang akan selalu menunjukkan kekejamannya. Itulah Hidup. Dan saya tau kewajiban saya. Bertahan dari kekejamannya. Melawan keberingasan alam liar realita dengan satu senjata andalan saya... senyuman.

*Ya ampun... kemana aja yah tuh senyuman, kok baru aja nongol sekarang...*

Anyway, makasih banget yah buat temen-temen yang udah ngasih supportnya buat saya. I really appreciate that...

Saya jadi malu sama diri saya sendiri nih, kok kemaren bisa jadi cengeng gitu. Padahal saya punya banyak hal lain yang harusnya saya syukuri. Terlebih lagi, saya seharusnya juga berterimakasih pada Hidup yang sudah memberikan rintangan untuk dihadapi, perjuangan untuk dimenangkan, rahasia untuk digali, dan anugerah untuk dimanfaatkan. Ternyata, sungguh menyenangkan mengetahui kenyataan bahwa Kehidupan sudah menyapa saya.

8 December 2009

Kelelahan Ku

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 21:41 10 ocehan mereka
Ku merasa seperti anak kecil yang tidak mampu berenang,
namun dilepaskan begitu saja oleh orang tuanya di tengah kolam yang dalam
tanpa bantuan pelampung...

Tidak ada yang bisa kulakukan,
hanya mampu menjejakkan kaki berkali-kali di air dingin yang jahat...
berusaha untuk tetap mengapung...
entah untuk tujuan apa...
untuk mempertahankan diri agar tidak tenggelam...
atau sekedar membuat mereka bangga,
bahwa akhirnya aku mampu...

Sementara yang lain...
mereka yang memenuhi pinggiran kolam,
hanya menunjuk-nunjukkan jari ke arahku...
hanya menggelengkan kepala...
hanya mencibir...
dan hanya tertawa terbahak-bahak...

Dan aku tau semua itu karena apa
mereka pikir aku konyol,
mereka anggap aku bodoh...

Tidak sadarkah mereka
bahwa tak seorang pun mampu berenang
di kali pertama mereka menceburkan diri ke air...

Dia perlu berpegangan...
Aku perlu pegangan...

Tapi kenapa justru dia yang menjadi tempat ku berpegang
harus berkata bahwa dia sudah lelah?
Kenapa dia harus mengatakannya di saat aku belum siap?
Siap untuk mengapung sendiri...

Tidak tahukah dia bahwa aku lebih merasa lelah?
Kaki-kakiku mulai terasa kaku karena terlalu lama menjejak air,
tangan-tanganku mulai terasa lemah,
dan tubuhku kedinginan...

Aku perlu istirahat, cuma itu...
Bukan karena aku ingin menyerah,
melainkan untuk mengumpulkan tenaga
sebelum aku mulai belajar berenang lagi...

Tidak adakah yang mau mencoba mengerti...?
Ataukah mereka ingin melihat
aku tenggelam terlebih dahulu karena kelelahan
sebelum pada akhirnya mereka paham...?


2 December 2009

Kepedulian Saya Berbeda

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 11:57 2 ocehan mereka

Hari AIDS sedunia emang diperingatin kemarin, tapi baru bisa saya obrolin hari ini... huhhuuu...
Tapi ga apa-apa lah, belum terlalu basi ini. Lagian kalo ngikut kata-kata bijak jadul yang keknya sekarang udah ketinggalan jaman banget, lebih baik terlambat daripada ga sama sekali... ya toh... hehee...

Jadi, semua juga udah pada tau kalau tanggal 1 Desember selalu diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Saya perhatikan setiap tahun banyak orang yang mengaku peduli terhadap isu yang satu ini mencoba menunjukkan kepedulian mereka, entah dengan berjalan kaki keliling kota sambil membagikan bunga (seperti yang dialami oleh Aron, hehee...), atau cukup dengan kompakan bareng teman-teman menyematkan red ribbon sebagai perlambang perang terhadap AIDS di dada mereka.



Tapi yang jadi pertanyaan saya, apakah mereka benar-benar paham tentang isu HIV/AIDS yang sebenarnya?

Saya teringat salah satu teman saya yang tahun kemaren begitu bersemangatnya ingin ikut menunjukkan kepeduliannya terhadap wabah AIDS dengan meminta teman-temannya memakai pita merah perlambang perang terhadap AIDS di baju mereka, termasuk saya.

"Ayo, buruan dipake. Sudah saatnya kita menunjukkan kepedulian kita buat mereka," begitu katanya waktu itu.

"Emang perlu ya?" tanya saya.

Saya tau, seharusnya saya ga bertanya seperti itu, karena teman saya ini langsung ngomel-ngomelin saya di hadapan teman-teman yang lain, bikin saya malu setengah hidup.

"Kamu ini gimana sih? Kita itu kan seharusnya... bla bla bla..." Yah, dia ngomel-ngomel panjang lebar, dan saya cuma diam dengerin omelan dia.

Itu bukan berarti saya ga peduli. Saya justru sangat peduli... saya sedih kalau ngeliat keadaan kritis para penderita AIDS... saya miris dengan stigma dan diskriminasi yang harus diterima para pengidap HIV... dan saya sangat berharap bahwa suatu saat para orang pintar yang selalu nemuin hal baru dan canggih dalam penelitian mereka pada akhirnya juga berhasil menemukan vaksin penyembuh AIDS, atau kalau memang tidak bisa menyembuhkan, setidaknya mampu mencegah penularannya.

Tapi kepedulian saya berbeda.

Saya ga ingin menunjukkan diri kalau saya peduli. Saya ga mau kemana-mana dengan pita merah tersemat di kemeja saya cuma buat ngingetin orang-orang kalau hari itu adalah hari peringatan AIDS sedunia. Kalaupun pada akhirnya mereka tau, apa itu bakalan menjamin kalau mereka juga bakalan ikut peduli...? Malah mungkin sebagian dari mereka bakalan bilang, "Ngapain sih mesti pake pita merah segala? Sok peduli ah!" Konyol banget kan jadinya...

Saya bukannya bersikap pesimis, cuma menggambarkan apa yang pasti terjadi dalam realita. Sebagian besar orang akan berkata, "Saya udah punya cukup banyak permasalahan tanpa harus ditambah-tambahin dengang masalah AIDS orang lain." See...?

Oke, balik ke teman saya tadi, yang masih aja terus menggurui saya dengan ceramahnya yang membosankan, membuat saya mulai ga sabar.

"Okey," kata saya. "Aku bakalan pake tuh pita, asal kamu kasih tau alasan yang jelas kenapa AIDS harus dilambangkan dengan pita merah. Kenapa bukan pita hitam atau putih? Trus kenapa harus pake pita? Kenapa ga pake tali aja gitu, atau yang lain?"

Saya ga bermaksud untuk menguji dia saat itu, cuma sekedar meyakinkan diri saya sendiri kalau dia memang paham, bukan sekedar tau. Tapi saya sudah bisa menebak jawaban apa yang bakalan keluar dari mulut ceriwisnya itu...

"Isna sayang," (gaya omongan dia waktu itu seakan-akan saya anak TK yang nanya Tuhan itu bener ada atau ga...) "mau pita merah atau yang lain, itu ga jadi masalah. Yang penting kan kepedulian kita," begitu jawabnya.

Yah, dia memang bener, tapi saya belum puas.

"Trus memangnya kepanjangan AIDS itu apaan sih?" coba saya lagi.

"Ya ampun, Isna," teman saya berlagak kaget. "Masa kamu ga tau sih? AIDS itu kan Accut Immune Decreasing Syndrome."

What?!! Apa... apa tadi?! Saya ga salah denger nih? Buset dah teman saya ini, asbun banget! Ngakunya peduli, tapi nyatanya...

Saya bisa aja ngetawain dia waktu itu, sekedar membalas dendam untuk perlakuan dia yang udah membunuh karakter saya di depan teman-teman yang lain. Tapi saya justru lebih prihatin. Saya hargai semangat dia untuk peduli, tapi semangat yang gigih tanpa diimbangi dengan pemahaman yang kuat sama aja artinya dengan menjerumuskan diri dalam sindrom underestimation (buset yah bahasa saya...).

Bukankah untuk memperjuangkan sesuatu paling ga kita mengerti apa yang akan kita perjuangkan?

Saya khawatir teman saya ini justru diremehkan dalam usahanya menunjukkan kepedulian.

Berusaha menjaga perasaannya, saya ambil pita merah yang udah dia siapin, saya pasang di kerah kemeja saya, dan ketika dia ga liat, saya tutupi dengan rambut saya. Sebagai tambahan, saya pinjami dia sebuah novel berlatar belakang isu seputar HIV/AIDS dengan harapan dia bakalan lebih memahami apa yang sedang dia perjuangkan itu.

Itu cerita setahun yang lalu. Saya agak jarang berkomunikasi dengan teman saya ini setahun belakangan karena dia udah mulai sibuk sama kerjaan barunya. Tapi ternyata kemaren dia nelpon saya, pengen ngajak keluar.

"Ke mall yuk," ajaknya kemaren. "Aku mau cari buku baru nih."

Entah kenapa, saya tergoda untuk ngingetin dia event di tanggal 1 Desember. "Loh, kamu ga ngumpul sama organisasi gereja kamu? Memperingati hari AIDS sedunia? Hari ini tanggal 1 Desember kan?" kata saya.

Teman saya agak sedikit salah tingkah sebelum dia menjawab, "Ayo, bisa ga keluar hari ini? Kalo ga aku cari teman lain deh."

Saya ga mau memperpanjang ledekan karena saya bukan tipe orang yang suka melakukan pembunuhan karakter terhadap orang lain. Jadi saya cuma menyimpan semua dugaan saya dalam hati.

Mungkin teman saya ini sudah benar-benar paham, pada akhirnya. Mungkin dia malu karena teringat kesalahan akut yang dia lakukan tahun kemaren. Atau mungkin, sikap peduli terhadap ODHA yang ditunjukkan dalam novel tersebut ternyata ga selaras dengan prinsipnya, sehingga dia memutuskan untuk ga lagi ambil bagian dalam kampanye peduli AIDS.

Yah, saya cuma bisa bilang, masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri untuk menunjukkan kepedulian, begitu juga saya. Saya ga perlu bunga ataupun pita merah. Yang saya perlukan cuma pemahaman mendalam tentang isu seputar HIV/AIDS. Itu sebabnya saya selalu mencari informasi sebanyak dan seakurat mungkin tentang isu ini agar ga terjadi kesalahpahaman di kemudian hari. Kepedulian itu saya tingkatkan lagi dengan berbagi pemahaman saya, dan berdiskusi dengan orang-orang terdekat saya, mereka yang peduli, atau yang mengaku peduli, untuk terus mengkampanyekan perang terhadap AIDS. Saya percaya itu lebih bermanfaat untuk mengurangi (karena saya tidak yakin apakah bisa dihilangkan) stigma dan diskriminasi di masyarakat.

Sungguh, itu jauh lebih bermakna...

1 October 2009

Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 09:58 0 ocehan mereka
Pernah merasa seperti sudah melakukan hal yang benar tapi ternyata everything was totally wrong? Saya pernah. Dan itu benar-benar berdampak besar dalam hidup saya. Everything was totally changing since then. Tapi memang semuanya selalu berubah kan? Atau mungkin... sebenernya ga ada yang berubah. Mungkin yang terjadi hanyalah semuanya ga berjalan seperti yang saya kira, atau paling ga, yang saya inginkan. Wrong step at the beginning, and everything has totally changed. Ironically, it becomes the deepest regret of mine. I lose everything when I thought I have given the best of me.

Saya jadi ingat kata-kata Dumbledore : "Konsekuensi tindakan kita selalu begitu rumit, begitu beragam, sehingga meramalkan masa depan sungguh sangat sulit..." (Harry Potter and The Prisoner of Azkaban, hal. 523). Jadi saya rasa sudah cukup jelas, kita ga bisa menebak apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Semua yang sudah direncanakan, semua yang kita harapkan bisa terjadi, probably doesn't run exactly as it goes. Tapi satu hal yang pasti, apapun yang terjadi, semuanya harus bisa kita terima sebagai sebuah konsekuensi atas pilihan kita. Seperti juga konsekuensi yang dengan besar hati saya terima... karena saya memilih jalan yang menurut saya benar... I have lost the most priceless gift in my life.

Friendship

And do you know how it feels like?

Sakit...

Dan itu semua hanya karena sebuah utang budi. Kebaikan orang ini sempat membutakan saya... mengira kalau dialah the trully friend of mine. Saya melepaskan sahabat-sahabat saya hanya untuk menjaga perasaan dia. Hingga pada akhirnya saya sadar kalau saay cuma diperalat. Utang budi yang pernah dia beri ke saya dijadikan tameng untuk bisa mengikat saya, membuat saya merasa seperti diperbudak, dan akhirnya terkucilkan dari sahabat-sahabat saya sendiri. Ironisnya, dia sebenernya ga pantas untuk dibela sama sekali. Setahun bersahabat dengan dia, saya ga pernah liat dia mau bersikap seperti seorang sahabat... justru lebih seperti seorang atasan ke bawahannya. Apa seperti itu sikap seorang sahabat?

Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk menjauh dari dia, tapi saya juga sudah begitu jauh ditinggalkan oleh sahabat-sahabat saya... mereka yang mungkin menyesali sikap saya yang lebih memilih orang yang sebenarnya ga pantas untuk dibela.

Saya juga menyesalinya... tapi apa itu ada artinya? Semua sudah terjadi. Dan saya mendapat hukuman atas kejahatan saya terhadap sahabat-sahabat saya... being alone.

Catatan ini bukan cuma sekedar curahan hati saya... tapi juga sebagai pengingat... betapa besar harga yag harus dipertaruhkan dalam membuat sebuah keputusan.

11 August 2009

Yang Tertinggi

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 10:47 1 ocehan mereka
"Orang yang mendaki paling tinggi adalah orang yang membantu orang lain naik ke atas" (George Matthew Adams)

"Di tempat kami berada udara dingin sekali. sehingga lilin membeku dan kami tidak bisa meniupnya untuk memadamkan nyalanya," kata seorang pria kepada pria lainnya.
"Itu belum apa-apa," jawab pria satunya. "Di tempat kami tiap kata-kata keluar dari mulut dalam kepingan-kepingan es kecil, dan kami harus menggorengnya terlebih dulu supaya bisa mellihat apa yang kami bicarakan." (majalah Courier Journal).

Obrolan di atas tentulah banyolan belaka. Tapi, intinya, pria yang satu tidak mau kalah dibanding pria lainnya. Dan, pada kenyataannya, manusia pada umumnya memang demikian.

Dalam hidup ini orang selalu ingin melebihi orang lainnya. Karena itulah orang yang sudah meraih gelar sarjana masih juga meneruskan pendidikannya hingga menyandang status master. Cukup? Ternyata belum. Pendidikannya diteruskan lagi hingga mencapai gelas doktor. Sementara puluhan anak di lingkungannya terpaksa putus sekolah sebelum sempat memegang ijazah karena orangtuanya hidup susah.

Karena itu pula orang tidak pernah merasa dirinya kaya, sebab selalu saja ada orang lain yang lebih kaya. Sayangnya, untuk menumpuk kekayaan orang tak jarang menghalalkan segala cara: membabat hutan dan bahkan berbisnis obat terlarang yang menyebabkan generasi muda tergelincir ke jurang kehancuran.

Keinginan untuk melebihi orang lain tersebut berlanjut pula pada sikap hidup keseharian. Orang yang sudah memiliki dua buah mobil, selalu saja ingin membeli mpbil baru yag ketiga. Jika tetangga sebelah memiliki jumlah yang sama, maka ia akan menambah satu lagi aga melebihinya. Jika tetangganya punya mobil baru, ia akan membeli yang lebih baru. Karena itulah setiap mobil produk terbaru diluncurkan ke pasar, selalu saja ada banyak pembelinya. Soalnya, orang membeli mobil tidak lagi sekadar untuk memenuhi kebutuhan, melainkan demi memenuhi keinginan melebihi orang lain.

Dalam soal ibadah pun tidak sedikit orang yang melakukannya tidak semata karena iman, tapi juga demi persaingan. Makanya tidak sedikit orang yang berulang kali naik haji, sementara tetangga di sebelah atau di belakang rumahnya kerap kehabisan nasi. Tidak sedikit oarang yang menggunakan sajadah atau mukena mewah, sementara banyak orang di sekellingnya berkeluh kesah dililit kesusahan.

Semua itu dilakukan orang demi ambisinya menjadi yang tertinggi, yang tak tersaingi. Padahal mana ada mobil baru, sebab selalu saja ada mobil produk terbaru. Mana ada orang yang bisa disebut paling banyak ibadahnya, sebab yang dihitung bukan banyak sedikitnya, melainkan seberapa tinggi tingkat keikhlasannya. Mana ada orang terkaya, sebab selalu saja ada orang lain yang lebih kaya dan kekayaan itu sendiri sifatnya sementara saja. Selain itu, kekayaan yang sebenarnya adalah seberapa banyak seseorang dapat memberi orang lain.

Karena itulah Henry Van Dyke mengingatkan: ada ambisi yang lebih luhur daripada hanya berdiri di ketinggian di dunia, yaitu membungkuk ke bawah dan mengangkat umat manusia sedikit lebih tinggi derajatnya.

Sumber: Media Kalimantan
Showing posts with label Inside Of Me. Show all posts
Showing posts with label Inside Of Me. Show all posts

19 January 2010

Sebuah Keputusan

Posted by Si_Isna at 13:09 11 comments
gambar diambil disini

Siapa yang mengira bahwa tahun 2010 saya akan diawali dengan sebuah pergolakan batin antara ego dan keinginan menjadi dewasa. Tercabik antara dendam masa lalu dan keinginan untuk bermetamorfosa bener-bener berat rasanya.

Tepat tanggal 1 Januari 2010, seorang teman lama menyapa saya via chat online. Saya ga tau dari mana dia tau user ID saya (mungkin dia tanya teman saya yang lain), tapi bukan itu yang jadi masalah.

Kehadiran dia kembali membuka luka lama saya. Sebuah luka dalam yang disebabkan oleh kekecewaan gigantis dari seorang sahabat.

Dia pernah jadi sahabat saya. Bahkan sahabat terdekat yang pernah saya miliki. Seseorang yang pernah menjadi kepercayaan terbesar saya. Seseorang yang dengan ikhlas hati saya terima semua kelebihan dan kekurangan serta "perbedaan besar" di antara kami berdua. Saya bahkan bisa terima sikap dia yang selalu menganggap saya saingannya, entah itu dalam hal akademis, pertemanan, atau pun percintaan.

Tapi satu hal yang bener-bener ga bisa saya terima adalah pengkhianatan kepercayaan yang pernah dia lakukan.

Saya ga perlu menjelaskan secara rinci apa yang pernah dia lakukan, tapi yang jelas itu cukup membuat saya berhenti untuk mempercayainya, atau yang lebih parah, berhenti untuk mengenal yang namanya sahabat.

Dan dia hadir lagi. Saya sempat ngerasa bingung. Sebagian hati saya masih sangat membencinya, tapi bagian hati saya yang lain justru sangat mengharapkan saya untuk bisa mulai belajar menerima kesalahan, sebesar apapun kesalahan itu.

Saya ga pernah mau bikin resolusi setiap tahun, tapi saya selalu berharap saya bisa bersikap lebih baik lagi di setiap harinya.
Dan saya pun tau apa yang harus (dan ingin) saya lakukan.
Saya belajar memaafkan dia.
Saya belajar untuk menerima pengkhianatan yang pernah dia lakukan.
Saya mencoba untuk berpikir positif bahwa mungkin dia melakukannya untuk alasan yang meskipun pada saat itu ga bisa saya terima, tapi mungkin ternyata itu adalah satu-satunya yang bisa dia lakukan.

Saya pun tau, saya juga pernah melakukan kesalahan. Sungguh ga adil kalau saya ga bisa menerima kesalahan orang lain sementara saya juga ga luput dari salah dan khilaf. Dan salah satu cara untuk menebusnya adalah dengan membuka kembali jalinan pertemanan itu.

Saya hanya berharap bahwa apa yang saya lakukan ini mampu membuat saya bisa berpikir dan bersikap lebih dewasa lagi.

Welcome back friend. Kita mungkin sudah ga bisa lagi jadi sahabat, tapi kita masih bisa berteman. Mungkin itu yang terbaik yang bisa kita lakukan sekarang.

28 December 2009

Ayah

Posted by Si_Isna at 12:58 8 comments
Saya membacanya di sebuah blog, dan ingin saya bagikan lagi kepada kalian yang membacanya...

Suatu ketika, ada seorang anak wanita yang bertanya kepada Ayahnya,
tatkala tanpa sengaja dia melihat
Ayahnya sedang mengusap wajahnya
yang mulai berkerut-merut
dengan badannya yang terbungkuk-bungkuk,
disertai suara batuk-batuknya.

Anak wanita itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa,
tetapi dia tetap saja penasaran,
mengapa wajah Ayahnya yang tadinya tampan
menjadi berkerut-merut
dan badannya menjadi terbungkuk-bungkuk ?

Hingga pada suatu malam, anak wanita itu bermimpi.
Di dalam impian itu seolah-olah dia mendengar
suara yang sangat lembut, namun jelas sekali.
Dan kata-kata yang terdengar dengan jelas itu
ternyata suatu rangkaian kalimat
sebagai jawaban rasa kepenasarannya selama ini.

"Saat Ku-ciptakan Laki-laki,
aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga
serta sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga,
dia senantiasa akan berusaha untuk menahan setiap ujungnya,
agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi."

"Ku-ciptakan bahunya yang kekar dan berotot
untuk membanting-tulang menghidupi seluruh keluarganya
dan kegagahannya harus cukup kuat pula
untuk melindungi seluruh keluarganya."

"Ku-berikan kemauan padanya agar selalu berusaha
mencari sesuap nasi yang berasal dari tetes keringatnya sendiri
yang halal dan bersih,
agar keluarganya tidak terlantar,
walaupun seringkali dia mendapat cercaan dari anak-anaknya."

"Ku-berikan keperkasaan dan mental baja
yang akan membuat dirinya pantang menyerah,
demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat panasnya matahari,
demi keluarganya dia merelakan badannya berbasah kuyup kedinginan
karena tersiram hujan dan dihembus angin,
dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya,
dan yang selalu dia ingat,
adalah disaat semua orang menanti kedatangannya
dengan mengharapkan hasil dari jerih-payahnya."

"Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan
yang akan membuat dirinya selalu berusaha
merawat dan membimbing keluarganya tanpa adanya keluh kesah,
walaupun disetiap perjalanan hidupnya
keletihan dan kesakitan kerap kali menyerangnya."

"Ku-berikan perasaan keras dan gigih
untuk berusaha berjuang demi mencintai dan mengasihi keluarganya,
di dalam kondisi dan situasi apapun juga,
walaupun tidaklah jarang anak-anaknya melukai perasaannya,
melukai hatinya.
Padahal perasaannya itu pula
yang telah memberikan perlindungan rasa aman
pada saat dimana anak-anaknya tertidur lelap.
Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan
bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya
agar selalu saling menyayangi dan saling mengasihi sesama saudara."

"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya
untuk memberikan pengertian dan kesadaran
terhadap anak-anaknya tentang saat kini dan saat mendatang,
walaupun seringkali ditentang bahkan dilecehkan oleh anak-anaknya."

"Ku-berikan kebijaksanaan dan kemampuan padanya
untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan,
bahwa Isteri yang baik
adalah Isteri yang setia terhadap Suaminya,
Isteri yang baik adalah Isteri yang senantiasa menemani,
dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup baik suka maupun duka,
walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan menguji
setiap kesetiaan yang diberikan kepada Isteri,
agar tetap berdiri, bertahan, sejajar dan saling melengkapi
serta saling menyayangi."

"Ku-berikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti,
bahwa Laki-laki itu senantiasa berusaha sekuat daya pikirnya
untuk mencari dan menemukan cara
agar keluarganya bisa hidup didalam keluarga sakinah
dan badannya yang terbungkuk agar dapat membuktikan
bahwa sebagai Laki-laki yang bertanggung jawab
terhadap seluruh keluarganya
senantiasa berusaha mencurahkan
sekuat tenaga serta segenap perasaannya, kekuatannya, keuletannya
demi kelangsungan hidup keluarganya."

"Ku-berikan kepada Laki-laki tanggung-jawab penuh
sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga,
agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya.
Dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki
oleh Laki-laki,
walaupun sebenarnya tanggung-jawab ini
adalah amanah di dunia dan akhirat."

Terbangun anak wanita itu,
dan segera dia berlari, bersuci, berwudhu dan melakukan shalat malam
hingga menjelang subuh.
Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdzikir,
ketika Ayahnya berdiri
anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya.

"Aku mendengar dan merasakan bebanmu, Ayah."


24 December 2009

Yes, I'm Left-Handed

Posted by Si_Isna at 10:38 11 comments
gambar diambil disini

Ya, saya memang kidal, terus memangnya kenapa.
Apa itu sesuatu yang salah...?
Kita tinggal di negara yang (katanya) demokratis toh...
Kita juga (katanya) menghargai perbedaan toh...
Trus apa jadi masalah kalau saya left-handed.

Saya ga tinggal di jaman dulu dimana seorang pria lebih memilih perempuan yang tidak kidal, dan jika mendapati istrinya kidal maka si istri akan diceraikan.
Saya juga ga tinggal di komunitas sesat yang mengatakan kalau orang kidal itu adalah budak iblis.

Saya tinggal di tempat yang menurut saya paling nyaman dan saya tinggal bersama orang-orang yang bisa menerima saya apa adanya.
Lalu kenapa kalian masih mempermasalahkan kekidalan saya...?

Saya ga pernah ingin didiskriminasikan cuma karena saya kidal.
Saya juga ga mau dikasihani cuma karena saya termasuk golongan minoritas.
Saya ga pernah menganggap suatu masalah jika kursi kampus yang salah satu sandaran tangannya dijadikan meja tulis hanya diperuntukan bagi mahasiswa yang terbiasa menulis dengan tangan kanan.
Lalu kenapa kalian harus meributkannya.

Sudahlah...
Saya tau kalian mungkin bermaksud untuk menunjukkan simpati kalian.
Tapi kalau terus-terusan seperti itu, lama-lama justru kalian yang mendiskriminasikan saya.

Saya bangga kok dengan kekidalan saya.
Bahkan banyak tokoh populer yang juga ternyata kidal.
Salah satunya malahan adalah tokoh favorit saya, Leonardo Da Vinci.
Dan dia ga pernah peduli dengan anggapan orang tentang dia yang left-handed, padahal dia hidup di jaman yang masih sangat terikat dengan hal-hal yang seharusnya seperti "itu", sementara dia sendiri bisa dibilang "tidak normal".
Lalu kenapa saya tidak bisa seperti dia...

Kidal adalah anugerah yang diberikan oleh Tuhan.
Saya berani mengatakannya demikian.
Bukankah kitab saya, Al Qur'an, juga ditulis dari kanan ke kiri.
Tuhan menyayangi saya dengan memberikan kemudahan itu untuk saya jika saya ingin menuliskan kembali ayat-ayat-Nya.
Lalu kenapa kalian harus merasa prihatin dengan keadaan saya.

Saya bangga menjadi kidal, karena sekidal-kidalnya saya, saya masih bisa melakukan segala sesuatu dengan kedua tangan saya.
So just, cut it off.
Masih banyak hal lain di luar sana yang lebih penting untuk diperhatikan daripada kekidalan saya.
Okey...
Am I make myself clear...?

23 December 2009

Indifference Doesn't Mean Similar

Posted by Si_Isna at 21:35 2 comments
gambar diambil disini

Kehadiran sebuah blog tentu saja memberikan napas segar bagi kita yang memang menyukai dunia tulis menulis. Bahkan yang ga terlalu suka nulis pun tetap bisa numpahin uneg-unegnya dalam sebuah tulisan.

Terus apa aja yang bisa ditulis di sebuah blog? Banyak! Mau itu info atau cuma sekedar obrolan ga jelas, mau itu review film/buku atau cuma ngomentarin betapa jeleknya buku yang barusan aja dibaca, atau mau itu curhat atau cuma sekedar ngomel-ngomel, semuanya bisa diwujudkan dalam tulisan... *selama ga ada unsur SARA atau pornografi loh ya...*

Dan apa aja yang saya tulis di blog saya? Semua yang ada di kepala saya, semua yang saya liat dan dengar, dan semua yang membuat saya tergoda untuk merenungkannya.

Tapi karena begitu asyiknya saya dengan tulisan, saya terkadang sampai lupa kalau sebenarnya bukan cuma saya aja yang bisa mengonsumsinya. Saya nulis di blog toh, itu artinya pasti bakalan ada yang baca tulisan saya, berusaha memahami makna apa yang ingin saya sampaikan, dan jadi sedikit kebingungan kalau udah mentok untuk nyari jawaban.

Ya, just put the blame on me. Saya memang sedikit egois, saya akui itu. Terkadang saya nulis untuk sesuatu yang cuma saya pahami sendiri, sementara yang udah baca tulisan saya sampai harus mengerutkan kening cuma untuk memahaminya.

Untuk itu saya minta maaf...

Ini semua berawal dari postingan saya beberapa hari yang lalu tentang sebuah quotation berjudul It's Indifference, yang sukses bikin beberapa teman saya manggut-manggut ga mudeng. Hehee... maaf ya...

Sedikit cerita nih, quotation itu saya temukan di sebuah buku yang pernah saya baca sekitar tahun 2004an di sebuah perpustakaan kota. *Dulu saya sering banget ke perpustakaan cuma buat nongkrong sama buku-buku lama yang ternyata oke-oke.* Sayang banget saya ga ingat judul bukunya apa. Tapi ya udahlah, pokoknya yang jelas begitu saya baca empat baris kalimat itu, saya langsung tergugah (haiah... bahasanya...).

Saya baru sekali itu nemu kalimat yang bener-bener bikin saya mikir. Ya, saya juga pada awalnya kesulitan buat memahaminya. Tapi semakin saya baca, semakin saya dapat menangkap maksud dari si penulis. Atau mungkin sayanya aja yang maksain buat nemuin penjelasannya, entahlah.

Jadi, biarlah saya coba menjelaskan quotation tersebut berdasarkan pemahaman saya...

The opposite of love is not hate, it's indifference.
Kalau dipikir-pikir, semua orang juga sudah bisa nebak kalau lawan dari cinta adalah benci. Tapi kalau kita coba lebih pahami lagi, apa bener seperti itu? Menurut saya cinta dan benci adalah hal yang "satu". Mereka ga berbeda, tapi bukan berarti juga sama. Benci lahir dari sebuah cinta. Kekecewaan terhadap sesuatu yang kita cintai akan melahirkan benci. Cinta dan benci pada dasarnya berasal dari hal yang sama, kasih sayang. Yang membuat mereka dianggap berbeda adalah yang satu memiliki kasih sayang yang lebih banyak dibandingkan yang lain.

The opposite of art is not ugliness, it's indifference.
Apakah yang namanya seni selalu diidentikkan dengan hal yang indah-indah sehingga kalau ditanyakan apa lawan dari seni kita langsung menjawab: ketidak-indahan? Menurut saya jelas tidak. Sejak saya mulai mengenal hidup sampai sekarang, saya ga pernah berhasil menemukan apa lawan dari sebuah seni. Bahkan sesuatu yang tidak indah pun bisa dianggap seni, tergantung sudut pandang si penilai. Seni itu relatif. Seni tergantung pada tiap individu. Dan kalaupun saya tetap dipaksa untuk mencari sesuatu yang bertentangan tentang seni, atau keindahan, saya mungkin akan membandingkan tentang keindahan dan mereka yang tidak mau melihat keindahan itu.

The opposite of faith is not heresy, it's indifference.
Menurut saya keyakinan tetaplah keyakinan. Mau itu meyakini Tuhan, atau menyembah berhala, atau percaya pada dukun, atau tunduk pada ilmu pengetahuan, atau menjalankan sebuah ajaran yang menurut orang lain sesat, tapi menurut dia benar. Disini kita ga berbicara tentang baik atau buruknya sebuah keyakinan yang dianut. Semua orang punya hak untuk meyakini apapun yang menurut mereka paling benar. Disini kita mencoba memahami sebuah keyakinan sebagai fitrah seorang manusia. Hal paling mudah untuk mencari kebalikan atau lawan dari sebuah keyakinan adalah tidak yakin. Itupun saya ragukan. Mungkin memang benar ada orang-orang yang "tidak yakin", tapi toh kenyataannya mereka "meyakini" hal yang lain.

And the opposite of life is not death, it's indifference.
Kehidupan dan kematian. Saya tidak pernah menemukan perbedaan dari dua kata tersebut. Atau lebih tepatnya, kematian justru sebuah fase dalam kehidupan. Di agama saya, saya diajarkan lima fase kehidupan : Alam Ruh, alam dimana sebelum jasad manusia diciptakan. Fase selanjutnya kita menuju Alam Rahim, alam kandungan ibu tempat menyempurnakan jasad manusia dan penentuan kadar nasib kita didunia seperti hidup, rezeki, kapan dan dimana kita meninggal. Dan sekarang kita memasuki fase yang ketiga Alam Dunia, alam tempat ujian bagi manusia, siapakah diantara mereka yang paling baik amalannya. Dan masih ada 2 fase lagi yang kita akan lalui yaitu Alam Kubur ( alam barzakh), alam tempat menyimpan amal manusia, di alam ini Tuhan menyediakan dua keadaan, nikmat atau azab kubur. Dan alam terakhir yang harus kita lewati adalah Alam Akhirat ( alam tempat pembalasan amal-amal manusia ). Di alam ini Tuhan menentukan keputusan dua tempat untuk manusia, apakah ia akan menghuni surga atau menghuni neraka. Dan Kematian adalah jembatan yang harus kita lalui ketika meninggalkan Alam Dunia menuju ke Alam Kubur.

Jadi kira-kira seperti itulah pemahaman saya tentang quotation yang sudah pernah saya tuliskan. Mungkin ada beberapa (atau malah semuanya) yang sangat tidak sesuai dengan pemahaman kalian. Ga apa-apa kan...? Bukannya masing-masing kita memang diciptakan berbeda...?

Ya udahlah, itu aja yang bisa saya sharing buat kalian...
Saya udah cape banget nih... ngantuk...

12 December 2009

Kelahiran Kembali

Posted by Si_Isna at 13:01 4 comments

Empat hari itu saya pakai untuk menyendiri, mengilas balik apa yang sudah saya tempuh selama ini, merenungkan setiap kegagalan yang harus saya hadapi, meresapi setiap konsekuensi dari kesalahan yang saya lakukan, dan pada akhirnya menikmati makna hidup yang sebenarnya.

Dan bagaimana rasanya...?

Entahlah, saya agak bingung menjelaskannya. Rasanya campur aduk.
Agak pahit...
Sedikit asam...
Lumayan manis...
Dan ternyata menyegarkan...

Akhirnya saya tau apa tujuan dari semua ini... mendewasakan saya.

Selama ini saya termasuk orang yang selalu sentimentil...
...mungkin karena saya selalu menyimpan semua masalah untuk saya sendiri.

Selama ini saya termasuk orang yang selalu terbawa emosi...
...mungkin karena saya selalu egois terhadap diri sendiri.

Selama ini saya termasuk orang yang selalu menangis dalam diam...
...mungkin karena saya selalu beranggapan bahwa menangis hanya menunjukkan bahwa saya orang yang lemah...

Ternyata selama ini saya sudah salah memperlakukan diri sendiri.
Crying doesn't indicate that you're weak. Since birth, it has always been a sign that you're alive.

Saya jadi teringat komen yang sempat dituliskan sama de asmara :
mo tau sesuatu, Na? sini saya bisikin..... "itulah hidup"
tidak selalu adil. tidak selalu sesuai dg yg diharapkan.

prepare for the worst, & try to less dependent to anyone but your own feet! Okay, Dear :)
Ya, hidup memang akan selalu menunjukkan kekejamannya. Itulah Hidup. Dan saya tau kewajiban saya. Bertahan dari kekejamannya. Melawan keberingasan alam liar realita dengan satu senjata andalan saya... senyuman.

*Ya ampun... kemana aja yah tuh senyuman, kok baru aja nongol sekarang...*

Anyway, makasih banget yah buat temen-temen yang udah ngasih supportnya buat saya. I really appreciate that...

Saya jadi malu sama diri saya sendiri nih, kok kemaren bisa jadi cengeng gitu. Padahal saya punya banyak hal lain yang harusnya saya syukuri. Terlebih lagi, saya seharusnya juga berterimakasih pada Hidup yang sudah memberikan rintangan untuk dihadapi, perjuangan untuk dimenangkan, rahasia untuk digali, dan anugerah untuk dimanfaatkan. Ternyata, sungguh menyenangkan mengetahui kenyataan bahwa Kehidupan sudah menyapa saya.

8 December 2009

Kelelahan Ku

Posted by Si_Isna at 21:41 10 comments
Ku merasa seperti anak kecil yang tidak mampu berenang,
namun dilepaskan begitu saja oleh orang tuanya di tengah kolam yang dalam
tanpa bantuan pelampung...

Tidak ada yang bisa kulakukan,
hanya mampu menjejakkan kaki berkali-kali di air dingin yang jahat...
berusaha untuk tetap mengapung...
entah untuk tujuan apa...
untuk mempertahankan diri agar tidak tenggelam...
atau sekedar membuat mereka bangga,
bahwa akhirnya aku mampu...

Sementara yang lain...
mereka yang memenuhi pinggiran kolam,
hanya menunjuk-nunjukkan jari ke arahku...
hanya menggelengkan kepala...
hanya mencibir...
dan hanya tertawa terbahak-bahak...

Dan aku tau semua itu karena apa
mereka pikir aku konyol,
mereka anggap aku bodoh...

Tidak sadarkah mereka
bahwa tak seorang pun mampu berenang
di kali pertama mereka menceburkan diri ke air...

Dia perlu berpegangan...
Aku perlu pegangan...

Tapi kenapa justru dia yang menjadi tempat ku berpegang
harus berkata bahwa dia sudah lelah?
Kenapa dia harus mengatakannya di saat aku belum siap?
Siap untuk mengapung sendiri...

Tidak tahukah dia bahwa aku lebih merasa lelah?
Kaki-kakiku mulai terasa kaku karena terlalu lama menjejak air,
tangan-tanganku mulai terasa lemah,
dan tubuhku kedinginan...

Aku perlu istirahat, cuma itu...
Bukan karena aku ingin menyerah,
melainkan untuk mengumpulkan tenaga
sebelum aku mulai belajar berenang lagi...

Tidak adakah yang mau mencoba mengerti...?
Ataukah mereka ingin melihat
aku tenggelam terlebih dahulu karena kelelahan
sebelum pada akhirnya mereka paham...?


2 December 2009

Kepedulian Saya Berbeda

Posted by Si_Isna at 11:57 2 comments

Hari AIDS sedunia emang diperingatin kemarin, tapi baru bisa saya obrolin hari ini... huhhuuu...
Tapi ga apa-apa lah, belum terlalu basi ini. Lagian kalo ngikut kata-kata bijak jadul yang keknya sekarang udah ketinggalan jaman banget, lebih baik terlambat daripada ga sama sekali... ya toh... hehee...

Jadi, semua juga udah pada tau kalau tanggal 1 Desember selalu diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Saya perhatikan setiap tahun banyak orang yang mengaku peduli terhadap isu yang satu ini mencoba menunjukkan kepedulian mereka, entah dengan berjalan kaki keliling kota sambil membagikan bunga (seperti yang dialami oleh Aron, hehee...), atau cukup dengan kompakan bareng teman-teman menyematkan red ribbon sebagai perlambang perang terhadap AIDS di dada mereka.



Tapi yang jadi pertanyaan saya, apakah mereka benar-benar paham tentang isu HIV/AIDS yang sebenarnya?

Saya teringat salah satu teman saya yang tahun kemaren begitu bersemangatnya ingin ikut menunjukkan kepeduliannya terhadap wabah AIDS dengan meminta teman-temannya memakai pita merah perlambang perang terhadap AIDS di baju mereka, termasuk saya.

"Ayo, buruan dipake. Sudah saatnya kita menunjukkan kepedulian kita buat mereka," begitu katanya waktu itu.

"Emang perlu ya?" tanya saya.

Saya tau, seharusnya saya ga bertanya seperti itu, karena teman saya ini langsung ngomel-ngomelin saya di hadapan teman-teman yang lain, bikin saya malu setengah hidup.

"Kamu ini gimana sih? Kita itu kan seharusnya... bla bla bla..." Yah, dia ngomel-ngomel panjang lebar, dan saya cuma diam dengerin omelan dia.

Itu bukan berarti saya ga peduli. Saya justru sangat peduli... saya sedih kalau ngeliat keadaan kritis para penderita AIDS... saya miris dengan stigma dan diskriminasi yang harus diterima para pengidap HIV... dan saya sangat berharap bahwa suatu saat para orang pintar yang selalu nemuin hal baru dan canggih dalam penelitian mereka pada akhirnya juga berhasil menemukan vaksin penyembuh AIDS, atau kalau memang tidak bisa menyembuhkan, setidaknya mampu mencegah penularannya.

Tapi kepedulian saya berbeda.

Saya ga ingin menunjukkan diri kalau saya peduli. Saya ga mau kemana-mana dengan pita merah tersemat di kemeja saya cuma buat ngingetin orang-orang kalau hari itu adalah hari peringatan AIDS sedunia. Kalaupun pada akhirnya mereka tau, apa itu bakalan menjamin kalau mereka juga bakalan ikut peduli...? Malah mungkin sebagian dari mereka bakalan bilang, "Ngapain sih mesti pake pita merah segala? Sok peduli ah!" Konyol banget kan jadinya...

Saya bukannya bersikap pesimis, cuma menggambarkan apa yang pasti terjadi dalam realita. Sebagian besar orang akan berkata, "Saya udah punya cukup banyak permasalahan tanpa harus ditambah-tambahin dengang masalah AIDS orang lain." See...?

Oke, balik ke teman saya tadi, yang masih aja terus menggurui saya dengan ceramahnya yang membosankan, membuat saya mulai ga sabar.

"Okey," kata saya. "Aku bakalan pake tuh pita, asal kamu kasih tau alasan yang jelas kenapa AIDS harus dilambangkan dengan pita merah. Kenapa bukan pita hitam atau putih? Trus kenapa harus pake pita? Kenapa ga pake tali aja gitu, atau yang lain?"

Saya ga bermaksud untuk menguji dia saat itu, cuma sekedar meyakinkan diri saya sendiri kalau dia memang paham, bukan sekedar tau. Tapi saya sudah bisa menebak jawaban apa yang bakalan keluar dari mulut ceriwisnya itu...

"Isna sayang," (gaya omongan dia waktu itu seakan-akan saya anak TK yang nanya Tuhan itu bener ada atau ga...) "mau pita merah atau yang lain, itu ga jadi masalah. Yang penting kan kepedulian kita," begitu jawabnya.

Yah, dia memang bener, tapi saya belum puas.

"Trus memangnya kepanjangan AIDS itu apaan sih?" coba saya lagi.

"Ya ampun, Isna," teman saya berlagak kaget. "Masa kamu ga tau sih? AIDS itu kan Accut Immune Decreasing Syndrome."

What?!! Apa... apa tadi?! Saya ga salah denger nih? Buset dah teman saya ini, asbun banget! Ngakunya peduli, tapi nyatanya...

Saya bisa aja ngetawain dia waktu itu, sekedar membalas dendam untuk perlakuan dia yang udah membunuh karakter saya di depan teman-teman yang lain. Tapi saya justru lebih prihatin. Saya hargai semangat dia untuk peduli, tapi semangat yang gigih tanpa diimbangi dengan pemahaman yang kuat sama aja artinya dengan menjerumuskan diri dalam sindrom underestimation (buset yah bahasa saya...).

Bukankah untuk memperjuangkan sesuatu paling ga kita mengerti apa yang akan kita perjuangkan?

Saya khawatir teman saya ini justru diremehkan dalam usahanya menunjukkan kepedulian.

Berusaha menjaga perasaannya, saya ambil pita merah yang udah dia siapin, saya pasang di kerah kemeja saya, dan ketika dia ga liat, saya tutupi dengan rambut saya. Sebagai tambahan, saya pinjami dia sebuah novel berlatar belakang isu seputar HIV/AIDS dengan harapan dia bakalan lebih memahami apa yang sedang dia perjuangkan itu.

Itu cerita setahun yang lalu. Saya agak jarang berkomunikasi dengan teman saya ini setahun belakangan karena dia udah mulai sibuk sama kerjaan barunya. Tapi ternyata kemaren dia nelpon saya, pengen ngajak keluar.

"Ke mall yuk," ajaknya kemaren. "Aku mau cari buku baru nih."

Entah kenapa, saya tergoda untuk ngingetin dia event di tanggal 1 Desember. "Loh, kamu ga ngumpul sama organisasi gereja kamu? Memperingati hari AIDS sedunia? Hari ini tanggal 1 Desember kan?" kata saya.

Teman saya agak sedikit salah tingkah sebelum dia menjawab, "Ayo, bisa ga keluar hari ini? Kalo ga aku cari teman lain deh."

Saya ga mau memperpanjang ledekan karena saya bukan tipe orang yang suka melakukan pembunuhan karakter terhadap orang lain. Jadi saya cuma menyimpan semua dugaan saya dalam hati.

Mungkin teman saya ini sudah benar-benar paham, pada akhirnya. Mungkin dia malu karena teringat kesalahan akut yang dia lakukan tahun kemaren. Atau mungkin, sikap peduli terhadap ODHA yang ditunjukkan dalam novel tersebut ternyata ga selaras dengan prinsipnya, sehingga dia memutuskan untuk ga lagi ambil bagian dalam kampanye peduli AIDS.

Yah, saya cuma bisa bilang, masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri untuk menunjukkan kepedulian, begitu juga saya. Saya ga perlu bunga ataupun pita merah. Yang saya perlukan cuma pemahaman mendalam tentang isu seputar HIV/AIDS. Itu sebabnya saya selalu mencari informasi sebanyak dan seakurat mungkin tentang isu ini agar ga terjadi kesalahpahaman di kemudian hari. Kepedulian itu saya tingkatkan lagi dengan berbagi pemahaman saya, dan berdiskusi dengan orang-orang terdekat saya, mereka yang peduli, atau yang mengaku peduli, untuk terus mengkampanyekan perang terhadap AIDS. Saya percaya itu lebih bermanfaat untuk mengurangi (karena saya tidak yakin apakah bisa dihilangkan) stigma dan diskriminasi di masyarakat.

Sungguh, itu jauh lebih bermakna...

1 October 2009

Sebuah Kisah Klasik Untuk Masa Depan

Posted by Si_Isna at 09:58 0 comments
Pernah merasa seperti sudah melakukan hal yang benar tapi ternyata everything was totally wrong? Saya pernah. Dan itu benar-benar berdampak besar dalam hidup saya. Everything was totally changing since then. Tapi memang semuanya selalu berubah kan? Atau mungkin... sebenernya ga ada yang berubah. Mungkin yang terjadi hanyalah semuanya ga berjalan seperti yang saya kira, atau paling ga, yang saya inginkan. Wrong step at the beginning, and everything has totally changed. Ironically, it becomes the deepest regret of mine. I lose everything when I thought I have given the best of me.

Saya jadi ingat kata-kata Dumbledore : "Konsekuensi tindakan kita selalu begitu rumit, begitu beragam, sehingga meramalkan masa depan sungguh sangat sulit..." (Harry Potter and The Prisoner of Azkaban, hal. 523). Jadi saya rasa sudah cukup jelas, kita ga bisa menebak apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Semua yang sudah direncanakan, semua yang kita harapkan bisa terjadi, probably doesn't run exactly as it goes. Tapi satu hal yang pasti, apapun yang terjadi, semuanya harus bisa kita terima sebagai sebuah konsekuensi atas pilihan kita. Seperti juga konsekuensi yang dengan besar hati saya terima... karena saya memilih jalan yang menurut saya benar... I have lost the most priceless gift in my life.

Friendship

And do you know how it feels like?

Sakit...

Dan itu semua hanya karena sebuah utang budi. Kebaikan orang ini sempat membutakan saya... mengira kalau dialah the trully friend of mine. Saya melepaskan sahabat-sahabat saya hanya untuk menjaga perasaan dia. Hingga pada akhirnya saya sadar kalau saay cuma diperalat. Utang budi yang pernah dia beri ke saya dijadikan tameng untuk bisa mengikat saya, membuat saya merasa seperti diperbudak, dan akhirnya terkucilkan dari sahabat-sahabat saya sendiri. Ironisnya, dia sebenernya ga pantas untuk dibela sama sekali. Setahun bersahabat dengan dia, saya ga pernah liat dia mau bersikap seperti seorang sahabat... justru lebih seperti seorang atasan ke bawahannya. Apa seperti itu sikap seorang sahabat?

Hingga pada akhirnya saya memutuskan untuk menjauh dari dia, tapi saya juga sudah begitu jauh ditinggalkan oleh sahabat-sahabat saya... mereka yang mungkin menyesali sikap saya yang lebih memilih orang yang sebenarnya ga pantas untuk dibela.

Saya juga menyesalinya... tapi apa itu ada artinya? Semua sudah terjadi. Dan saya mendapat hukuman atas kejahatan saya terhadap sahabat-sahabat saya... being alone.

Catatan ini bukan cuma sekedar curahan hati saya... tapi juga sebagai pengingat... betapa besar harga yag harus dipertaruhkan dalam membuat sebuah keputusan.

11 August 2009

Yang Tertinggi

Posted by Si_Isna at 10:47 1 comments
"Orang yang mendaki paling tinggi adalah orang yang membantu orang lain naik ke atas" (George Matthew Adams)

"Di tempat kami berada udara dingin sekali. sehingga lilin membeku dan kami tidak bisa meniupnya untuk memadamkan nyalanya," kata seorang pria kepada pria lainnya.
"Itu belum apa-apa," jawab pria satunya. "Di tempat kami tiap kata-kata keluar dari mulut dalam kepingan-kepingan es kecil, dan kami harus menggorengnya terlebih dulu supaya bisa mellihat apa yang kami bicarakan." (majalah Courier Journal).

Obrolan di atas tentulah banyolan belaka. Tapi, intinya, pria yang satu tidak mau kalah dibanding pria lainnya. Dan, pada kenyataannya, manusia pada umumnya memang demikian.

Dalam hidup ini orang selalu ingin melebihi orang lainnya. Karena itulah orang yang sudah meraih gelar sarjana masih juga meneruskan pendidikannya hingga menyandang status master. Cukup? Ternyata belum. Pendidikannya diteruskan lagi hingga mencapai gelas doktor. Sementara puluhan anak di lingkungannya terpaksa putus sekolah sebelum sempat memegang ijazah karena orangtuanya hidup susah.

Karena itu pula orang tidak pernah merasa dirinya kaya, sebab selalu saja ada orang lain yang lebih kaya. Sayangnya, untuk menumpuk kekayaan orang tak jarang menghalalkan segala cara: membabat hutan dan bahkan berbisnis obat terlarang yang menyebabkan generasi muda tergelincir ke jurang kehancuran.

Keinginan untuk melebihi orang lain tersebut berlanjut pula pada sikap hidup keseharian. Orang yang sudah memiliki dua buah mobil, selalu saja ingin membeli mpbil baru yag ketiga. Jika tetangga sebelah memiliki jumlah yang sama, maka ia akan menambah satu lagi aga melebihinya. Jika tetangganya punya mobil baru, ia akan membeli yang lebih baru. Karena itulah setiap mobil produk terbaru diluncurkan ke pasar, selalu saja ada banyak pembelinya. Soalnya, orang membeli mobil tidak lagi sekadar untuk memenuhi kebutuhan, melainkan demi memenuhi keinginan melebihi orang lain.

Dalam soal ibadah pun tidak sedikit orang yang melakukannya tidak semata karena iman, tapi juga demi persaingan. Makanya tidak sedikit orang yang berulang kali naik haji, sementara tetangga di sebelah atau di belakang rumahnya kerap kehabisan nasi. Tidak sedikit oarang yang menggunakan sajadah atau mukena mewah, sementara banyak orang di sekellingnya berkeluh kesah dililit kesusahan.

Semua itu dilakukan orang demi ambisinya menjadi yang tertinggi, yang tak tersaingi. Padahal mana ada mobil baru, sebab selalu saja ada mobil produk terbaru. Mana ada orang yang bisa disebut paling banyak ibadahnya, sebab yang dihitung bukan banyak sedikitnya, melainkan seberapa tinggi tingkat keikhlasannya. Mana ada orang terkaya, sebab selalu saja ada orang lain yang lebih kaya dan kekayaan itu sendiri sifatnya sementara saja. Selain itu, kekayaan yang sebenarnya adalah seberapa banyak seseorang dapat memberi orang lain.

Karena itulah Henry Van Dyke mengingatkan: ada ambisi yang lebih luhur daripada hanya berdiri di ketinggian di dunia, yaitu membungkuk ke bawah dan mengangkat umat manusia sedikit lebih tinggi derajatnya.

Sumber: Media Kalimantan

My Blog List (testing what a long title looks like)

 
Blog Design by Template-Mama.