12 December 2009

Kelahiran Kembali

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 13:01 4 ocehan mereka

Empat hari itu saya pakai untuk menyendiri, mengilas balik apa yang sudah saya tempuh selama ini, merenungkan setiap kegagalan yang harus saya hadapi, meresapi setiap konsekuensi dari kesalahan yang saya lakukan, dan pada akhirnya menikmati makna hidup yang sebenarnya.

Dan bagaimana rasanya...?

Entahlah, saya agak bingung menjelaskannya. Rasanya campur aduk.
Agak pahit...
Sedikit asam...
Lumayan manis...
Dan ternyata menyegarkan...

Akhirnya saya tau apa tujuan dari semua ini... mendewasakan saya.

Selama ini saya termasuk orang yang selalu sentimentil...
...mungkin karena saya selalu menyimpan semua masalah untuk saya sendiri.

Selama ini saya termasuk orang yang selalu terbawa emosi...
...mungkin karena saya selalu egois terhadap diri sendiri.

Selama ini saya termasuk orang yang selalu menangis dalam diam...
...mungkin karena saya selalu beranggapan bahwa menangis hanya menunjukkan bahwa saya orang yang lemah...

Ternyata selama ini saya sudah salah memperlakukan diri sendiri.
Crying doesn't indicate that you're weak. Since birth, it has always been a sign that you're alive.

Saya jadi teringat komen yang sempat dituliskan sama de asmara :
mo tau sesuatu, Na? sini saya bisikin..... "itulah hidup"
tidak selalu adil. tidak selalu sesuai dg yg diharapkan.

prepare for the worst, & try to less dependent to anyone but your own feet! Okay, Dear :)
Ya, hidup memang akan selalu menunjukkan kekejamannya. Itulah Hidup. Dan saya tau kewajiban saya. Bertahan dari kekejamannya. Melawan keberingasan alam liar realita dengan satu senjata andalan saya... senyuman.

*Ya ampun... kemana aja yah tuh senyuman, kok baru aja nongol sekarang...*

Anyway, makasih banget yah buat temen-temen yang udah ngasih supportnya buat saya. I really appreciate that...

Saya jadi malu sama diri saya sendiri nih, kok kemaren bisa jadi cengeng gitu. Padahal saya punya banyak hal lain yang harusnya saya syukuri. Terlebih lagi, saya seharusnya juga berterimakasih pada Hidup yang sudah memberikan rintangan untuk dihadapi, perjuangan untuk dimenangkan, rahasia untuk digali, dan anugerah untuk dimanfaatkan. Ternyata, sungguh menyenangkan mengetahui kenyataan bahwa Kehidupan sudah menyapa saya.

9 December 2009

Yuk Tukeran Link

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 11:33 10 ocehan mereka
Link dibawah ini adalah daftar link dari blog-blog yang saya ikutin...
Yang mau tukeran link, boleh juga...
Pasang aja link saya di blog kamu, terus kasih tau saya di kolom komen...
Ntar saya link balik...

A
Andie
Anyin
Aron
Attayaya
Awan Diga Aristo
Ayas Tasli Wiguna

B
Billy HaeN
Blogging Portal
Bung Becce
Buwel

C

D
Dea Anugrah
Desy
Denny

E
Edo Belva
Eha
Enno

F
F2
Fanny Fredlina
Freya

G
Gogo
Gusti&Hana

H

I
Ichaelmago
Isti
Ivan Kavalera

J
Joe
Jonli Rahmat

K
Kabasaran
Keseharian Ra-Kun

L
Lilliperry
Linda
Lisha Boneth
Lolly

M
Marcell Siahaan

Miss Gaptek Belajar' Blog
Mr. Andre
Muhammad Dadan Suryana

N
Ninneta
Noor's Blog
Nyiel ^_^

O

P
Penikmat Buku
Peri Musim
Pilo Si Bodoh

Q

R
Raxen Vrathdar
Reni

S
Sari
Seti@wan Dirgant@Ra

T


U

V
Violet

W

X

Y
Yans 'dalamjeda'
Yunie

Z

8 December 2009

Kelelahan Ku

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 21:41 10 ocehan mereka
Ku merasa seperti anak kecil yang tidak mampu berenang,
namun dilepaskan begitu saja oleh orang tuanya di tengah kolam yang dalam
tanpa bantuan pelampung...

Tidak ada yang bisa kulakukan,
hanya mampu menjejakkan kaki berkali-kali di air dingin yang jahat...
berusaha untuk tetap mengapung...
entah untuk tujuan apa...
untuk mempertahankan diri agar tidak tenggelam...
atau sekedar membuat mereka bangga,
bahwa akhirnya aku mampu...

Sementara yang lain...
mereka yang memenuhi pinggiran kolam,
hanya menunjuk-nunjukkan jari ke arahku...
hanya menggelengkan kepala...
hanya mencibir...
dan hanya tertawa terbahak-bahak...

Dan aku tau semua itu karena apa
mereka pikir aku konyol,
mereka anggap aku bodoh...

Tidak sadarkah mereka
bahwa tak seorang pun mampu berenang
di kali pertama mereka menceburkan diri ke air...

Dia perlu berpegangan...
Aku perlu pegangan...

Tapi kenapa justru dia yang menjadi tempat ku berpegang
harus berkata bahwa dia sudah lelah?
Kenapa dia harus mengatakannya di saat aku belum siap?
Siap untuk mengapung sendiri...

Tidak tahukah dia bahwa aku lebih merasa lelah?
Kaki-kakiku mulai terasa kaku karena terlalu lama menjejak air,
tangan-tanganku mulai terasa lemah,
dan tubuhku kedinginan...

Aku perlu istirahat, cuma itu...
Bukan karena aku ingin menyerah,
melainkan untuk mengumpulkan tenaga
sebelum aku mulai belajar berenang lagi...

Tidak adakah yang mau mencoba mengerti...?
Ataukah mereka ingin melihat
aku tenggelam terlebih dahulu karena kelelahan
sebelum pada akhirnya mereka paham...?


3 December 2009

My Grow Up Wish

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 10:41 7 ocehan mereka
Huhh...
Ini hari terpadat dalam hidup saya yang harus saya jalani. Dari jam 8 tadi pagi saya udah harus sibuk sampe jam (entah sampai kapan) sore nanti. Tapi sekarang saya masih sempat curi-curi waktu buat update blog, semua demi produktivitas... jiahhh...

Tadi sempat update status di fesbuk juga. Ternyata... beberapa teman ngucapin hal yang kurang lebih sama,

Hepi Besdei...

Oalah, gimana toh saya ini, kok sampai lupa sama ni hari. Padahal jam 00.00 tadi malam Si Pangeran Kodok udah nelpon saya cuma buat ngingetin kalau hari ini hari ulang tahun saya. Parah banget sih saya punya ingatan.

Mungkin karena selama ini saya ga pernah ngerayain ultah, saya jadi mengabaikannya. Eih, bukan... bukan mengabaikan, tapi mengganggapnya ga berbeda with my another ordinary days which always seem to be extraordinary. Hihii... jangan sampe keracunan yah baca bahasa saya...

Dan yah, berhubung saya akhirnya ingat kalau hari ini hari ulang tahun saya, jadi ayo, ayo... make a wish...

Semoga panjang umur
Ga, itu bukan keinginan terbesar saya saat ini karena saya tau setiap orang punya jatah umurnya sendiri-sendiri, begitu juga saya. Saya tau umur saya udah dijatah sama Tuhan. Itu yang selalu saya ingatkan pada diri sendiri setiap kali sampai di hari ulang tahun saya, kalau ternyata umur saya semakin berkurang setiap tahun. Dan itu bukan hal yang layak untuk dirayakan...

Semoga dimudahkan rezeki
Well, itu yang selalu saya harapkan setiap hari. Tapi ini kan hari ulang tahun saya yang spesial (at least, buat saya lah...), makanya saya juga pengen berharap sesuatu yang spesial juga...

Semoga panjang jodoh
Mungkin bener kalau saya dibilang dudutz sama teman-teman, karena saya selalu kebingungan dengan istilah "panjang jodoh". Maksudnya apaan ya? Jadi, karena ketidakmengertian saya itu, doa yang satu ini juga tersingkir dari wishlist saya... hohooo....

Semoga yang dicita-citakan tercapai
Well, saya memang punya satu cita-cita, mungkin bisa dibilang cita-cita terbesar saya, yaitu terdaftar sebagai pelajar di sekolah sihir Hogwarts. Is it possible...? hehee...

Waduh... doa-doa dan harapan-harapan di atas udah terlalu standar buat disebut-sebut di hari ulang tahun.

Saya udah punya harapan saya sendiri kok, sebuah pengharapan yang juga selalu saya panjatkan dalam setiap doa saya...

Saya ingin menjadi manusia yang lebih banyak memberi

Hmm... berat ya? Sebenernya ga terlalu berar-berat banget sih, cuma aja keknya saya masih ngerasa belum punya cukup banyak hal berarti yang bisa saya berikan kepada orang lain.

Tapi tau ga, sewaktu saya berpikiran seperti ini, jiwa saya yang satunya langsung teriak, "Ada!!! Kamu malahan punya banyak hal berarti yang bisa kamu bagikan buat orang lain. Come on...!! Wake up...!!"

Yah, jiwa saya yang lain ini memang sedikit cerewet soal memaknai kehidupan. Tapi toh dia memang benar. Say memang punya banyak hal yang bisa saya berikan untuk orang lain. Dan itu ga cuma terpatok pada materi aja. Mungkin saya nya aja yang terlalu muluk mengharapkan bisa memberi lebih. Padahal, cukup dengan hal-hal sederhana, misalnya aja memberikan senyuman kepada orang lain, yang saya bagikan dengan ketulusan dan keikhlasan hati, sudah menjadi pemberian yang ga ternilai harganya.

Ya ampun... kemana aja saya selama ini...



Wel, eniwei... hepi besdei tu mi...

2 December 2009

Kepedulian Saya Berbeda

Dicelotehkan oleh Si_Isna jam 11:57 2 ocehan mereka

Hari AIDS sedunia emang diperingatin kemarin, tapi baru bisa saya obrolin hari ini... huhhuuu...
Tapi ga apa-apa lah, belum terlalu basi ini. Lagian kalo ngikut kata-kata bijak jadul yang keknya sekarang udah ketinggalan jaman banget, lebih baik terlambat daripada ga sama sekali... ya toh... hehee...

Jadi, semua juga udah pada tau kalau tanggal 1 Desember selalu diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Saya perhatikan setiap tahun banyak orang yang mengaku peduli terhadap isu yang satu ini mencoba menunjukkan kepedulian mereka, entah dengan berjalan kaki keliling kota sambil membagikan bunga (seperti yang dialami oleh Aron, hehee...), atau cukup dengan kompakan bareng teman-teman menyematkan red ribbon sebagai perlambang perang terhadap AIDS di dada mereka.



Tapi yang jadi pertanyaan saya, apakah mereka benar-benar paham tentang isu HIV/AIDS yang sebenarnya?

Saya teringat salah satu teman saya yang tahun kemaren begitu bersemangatnya ingin ikut menunjukkan kepeduliannya terhadap wabah AIDS dengan meminta teman-temannya memakai pita merah perlambang perang terhadap AIDS di baju mereka, termasuk saya.

"Ayo, buruan dipake. Sudah saatnya kita menunjukkan kepedulian kita buat mereka," begitu katanya waktu itu.

"Emang perlu ya?" tanya saya.

Saya tau, seharusnya saya ga bertanya seperti itu, karena teman saya ini langsung ngomel-ngomelin saya di hadapan teman-teman yang lain, bikin saya malu setengah hidup.

"Kamu ini gimana sih? Kita itu kan seharusnya... bla bla bla..." Yah, dia ngomel-ngomel panjang lebar, dan saya cuma diam dengerin omelan dia.

Itu bukan berarti saya ga peduli. Saya justru sangat peduli... saya sedih kalau ngeliat keadaan kritis para penderita AIDS... saya miris dengan stigma dan diskriminasi yang harus diterima para pengidap HIV... dan saya sangat berharap bahwa suatu saat para orang pintar yang selalu nemuin hal baru dan canggih dalam penelitian mereka pada akhirnya juga berhasil menemukan vaksin penyembuh AIDS, atau kalau memang tidak bisa menyembuhkan, setidaknya mampu mencegah penularannya.

Tapi kepedulian saya berbeda.

Saya ga ingin menunjukkan diri kalau saya peduli. Saya ga mau kemana-mana dengan pita merah tersemat di kemeja saya cuma buat ngingetin orang-orang kalau hari itu adalah hari peringatan AIDS sedunia. Kalaupun pada akhirnya mereka tau, apa itu bakalan menjamin kalau mereka juga bakalan ikut peduli...? Malah mungkin sebagian dari mereka bakalan bilang, "Ngapain sih mesti pake pita merah segala? Sok peduli ah!" Konyol banget kan jadinya...

Saya bukannya bersikap pesimis, cuma menggambarkan apa yang pasti terjadi dalam realita. Sebagian besar orang akan berkata, "Saya udah punya cukup banyak permasalahan tanpa harus ditambah-tambahin dengang masalah AIDS orang lain." See...?

Oke, balik ke teman saya tadi, yang masih aja terus menggurui saya dengan ceramahnya yang membosankan, membuat saya mulai ga sabar.

"Okey," kata saya. "Aku bakalan pake tuh pita, asal kamu kasih tau alasan yang jelas kenapa AIDS harus dilambangkan dengan pita merah. Kenapa bukan pita hitam atau putih? Trus kenapa harus pake pita? Kenapa ga pake tali aja gitu, atau yang lain?"

Saya ga bermaksud untuk menguji dia saat itu, cuma sekedar meyakinkan diri saya sendiri kalau dia memang paham, bukan sekedar tau. Tapi saya sudah bisa menebak jawaban apa yang bakalan keluar dari mulut ceriwisnya itu...

"Isna sayang," (gaya omongan dia waktu itu seakan-akan saya anak TK yang nanya Tuhan itu bener ada atau ga...) "mau pita merah atau yang lain, itu ga jadi masalah. Yang penting kan kepedulian kita," begitu jawabnya.

Yah, dia memang bener, tapi saya belum puas.

"Trus memangnya kepanjangan AIDS itu apaan sih?" coba saya lagi.

"Ya ampun, Isna," teman saya berlagak kaget. "Masa kamu ga tau sih? AIDS itu kan Accut Immune Decreasing Syndrome."

What?!! Apa... apa tadi?! Saya ga salah denger nih? Buset dah teman saya ini, asbun banget! Ngakunya peduli, tapi nyatanya...

Saya bisa aja ngetawain dia waktu itu, sekedar membalas dendam untuk perlakuan dia yang udah membunuh karakter saya di depan teman-teman yang lain. Tapi saya justru lebih prihatin. Saya hargai semangat dia untuk peduli, tapi semangat yang gigih tanpa diimbangi dengan pemahaman yang kuat sama aja artinya dengan menjerumuskan diri dalam sindrom underestimation (buset yah bahasa saya...).

Bukankah untuk memperjuangkan sesuatu paling ga kita mengerti apa yang akan kita perjuangkan?

Saya khawatir teman saya ini justru diremehkan dalam usahanya menunjukkan kepedulian.

Berusaha menjaga perasaannya, saya ambil pita merah yang udah dia siapin, saya pasang di kerah kemeja saya, dan ketika dia ga liat, saya tutupi dengan rambut saya. Sebagai tambahan, saya pinjami dia sebuah novel berlatar belakang isu seputar HIV/AIDS dengan harapan dia bakalan lebih memahami apa yang sedang dia perjuangkan itu.

Itu cerita setahun yang lalu. Saya agak jarang berkomunikasi dengan teman saya ini setahun belakangan karena dia udah mulai sibuk sama kerjaan barunya. Tapi ternyata kemaren dia nelpon saya, pengen ngajak keluar.

"Ke mall yuk," ajaknya kemaren. "Aku mau cari buku baru nih."

Entah kenapa, saya tergoda untuk ngingetin dia event di tanggal 1 Desember. "Loh, kamu ga ngumpul sama organisasi gereja kamu? Memperingati hari AIDS sedunia? Hari ini tanggal 1 Desember kan?" kata saya.

Teman saya agak sedikit salah tingkah sebelum dia menjawab, "Ayo, bisa ga keluar hari ini? Kalo ga aku cari teman lain deh."

Saya ga mau memperpanjang ledekan karena saya bukan tipe orang yang suka melakukan pembunuhan karakter terhadap orang lain. Jadi saya cuma menyimpan semua dugaan saya dalam hati.

Mungkin teman saya ini sudah benar-benar paham, pada akhirnya. Mungkin dia malu karena teringat kesalahan akut yang dia lakukan tahun kemaren. Atau mungkin, sikap peduli terhadap ODHA yang ditunjukkan dalam novel tersebut ternyata ga selaras dengan prinsipnya, sehingga dia memutuskan untuk ga lagi ambil bagian dalam kampanye peduli AIDS.

Yah, saya cuma bisa bilang, masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri untuk menunjukkan kepedulian, begitu juga saya. Saya ga perlu bunga ataupun pita merah. Yang saya perlukan cuma pemahaman mendalam tentang isu seputar HIV/AIDS. Itu sebabnya saya selalu mencari informasi sebanyak dan seakurat mungkin tentang isu ini agar ga terjadi kesalahpahaman di kemudian hari. Kepedulian itu saya tingkatkan lagi dengan berbagi pemahaman saya, dan berdiskusi dengan orang-orang terdekat saya, mereka yang peduli, atau yang mengaku peduli, untuk terus mengkampanyekan perang terhadap AIDS. Saya percaya itu lebih bermanfaat untuk mengurangi (karena saya tidak yakin apakah bisa dihilangkan) stigma dan diskriminasi di masyarakat.

Sungguh, itu jauh lebih bermakna...

12 December 2009

Kelahiran Kembali

Posted by Si_Isna at 13:01 4 comments

Empat hari itu saya pakai untuk menyendiri, mengilas balik apa yang sudah saya tempuh selama ini, merenungkan setiap kegagalan yang harus saya hadapi, meresapi setiap konsekuensi dari kesalahan yang saya lakukan, dan pada akhirnya menikmati makna hidup yang sebenarnya.

Dan bagaimana rasanya...?

Entahlah, saya agak bingung menjelaskannya. Rasanya campur aduk.
Agak pahit...
Sedikit asam...
Lumayan manis...
Dan ternyata menyegarkan...

Akhirnya saya tau apa tujuan dari semua ini... mendewasakan saya.

Selama ini saya termasuk orang yang selalu sentimentil...
...mungkin karena saya selalu menyimpan semua masalah untuk saya sendiri.

Selama ini saya termasuk orang yang selalu terbawa emosi...
...mungkin karena saya selalu egois terhadap diri sendiri.

Selama ini saya termasuk orang yang selalu menangis dalam diam...
...mungkin karena saya selalu beranggapan bahwa menangis hanya menunjukkan bahwa saya orang yang lemah...

Ternyata selama ini saya sudah salah memperlakukan diri sendiri.
Crying doesn't indicate that you're weak. Since birth, it has always been a sign that you're alive.

Saya jadi teringat komen yang sempat dituliskan sama de asmara :
mo tau sesuatu, Na? sini saya bisikin..... "itulah hidup"
tidak selalu adil. tidak selalu sesuai dg yg diharapkan.

prepare for the worst, & try to less dependent to anyone but your own feet! Okay, Dear :)
Ya, hidup memang akan selalu menunjukkan kekejamannya. Itulah Hidup. Dan saya tau kewajiban saya. Bertahan dari kekejamannya. Melawan keberingasan alam liar realita dengan satu senjata andalan saya... senyuman.

*Ya ampun... kemana aja yah tuh senyuman, kok baru aja nongol sekarang...*

Anyway, makasih banget yah buat temen-temen yang udah ngasih supportnya buat saya. I really appreciate that...

Saya jadi malu sama diri saya sendiri nih, kok kemaren bisa jadi cengeng gitu. Padahal saya punya banyak hal lain yang harusnya saya syukuri. Terlebih lagi, saya seharusnya juga berterimakasih pada Hidup yang sudah memberikan rintangan untuk dihadapi, perjuangan untuk dimenangkan, rahasia untuk digali, dan anugerah untuk dimanfaatkan. Ternyata, sungguh menyenangkan mengetahui kenyataan bahwa Kehidupan sudah menyapa saya.

9 December 2009

Yuk Tukeran Link

Posted by Si_Isna at 11:33 10 comments
Link dibawah ini adalah daftar link dari blog-blog yang saya ikutin...
Yang mau tukeran link, boleh juga...
Pasang aja link saya di blog kamu, terus kasih tau saya di kolom komen...
Ntar saya link balik...

A
Andie
Anyin
Aron
Attayaya
Awan Diga Aristo
Ayas Tasli Wiguna

B
Billy HaeN
Blogging Portal
Bung Becce
Buwel

C

D
Dea Anugrah
Desy
Denny

E
Edo Belva
Eha
Enno

F
F2
Fanny Fredlina
Freya

G
Gogo
Gusti&Hana

H

I
Ichaelmago
Isti
Ivan Kavalera

J
Joe
Jonli Rahmat

K
Kabasaran
Keseharian Ra-Kun

L
Lilliperry
Linda
Lisha Boneth
Lolly

M
Marcell Siahaan

Miss Gaptek Belajar' Blog
Mr. Andre
Muhammad Dadan Suryana

N
Ninneta
Noor's Blog
Nyiel ^_^

O

P
Penikmat Buku
Peri Musim
Pilo Si Bodoh

Q

R
Raxen Vrathdar
Reni

S
Sari
Seti@wan Dirgant@Ra

T


U

V
Violet

W

X

Y
Yans 'dalamjeda'
Yunie

Z

8 December 2009

Kelelahan Ku

Posted by Si_Isna at 21:41 10 comments
Ku merasa seperti anak kecil yang tidak mampu berenang,
namun dilepaskan begitu saja oleh orang tuanya di tengah kolam yang dalam
tanpa bantuan pelampung...

Tidak ada yang bisa kulakukan,
hanya mampu menjejakkan kaki berkali-kali di air dingin yang jahat...
berusaha untuk tetap mengapung...
entah untuk tujuan apa...
untuk mempertahankan diri agar tidak tenggelam...
atau sekedar membuat mereka bangga,
bahwa akhirnya aku mampu...

Sementara yang lain...
mereka yang memenuhi pinggiran kolam,
hanya menunjuk-nunjukkan jari ke arahku...
hanya menggelengkan kepala...
hanya mencibir...
dan hanya tertawa terbahak-bahak...

Dan aku tau semua itu karena apa
mereka pikir aku konyol,
mereka anggap aku bodoh...

Tidak sadarkah mereka
bahwa tak seorang pun mampu berenang
di kali pertama mereka menceburkan diri ke air...

Dia perlu berpegangan...
Aku perlu pegangan...

Tapi kenapa justru dia yang menjadi tempat ku berpegang
harus berkata bahwa dia sudah lelah?
Kenapa dia harus mengatakannya di saat aku belum siap?
Siap untuk mengapung sendiri...

Tidak tahukah dia bahwa aku lebih merasa lelah?
Kaki-kakiku mulai terasa kaku karena terlalu lama menjejak air,
tangan-tanganku mulai terasa lemah,
dan tubuhku kedinginan...

Aku perlu istirahat, cuma itu...
Bukan karena aku ingin menyerah,
melainkan untuk mengumpulkan tenaga
sebelum aku mulai belajar berenang lagi...

Tidak adakah yang mau mencoba mengerti...?
Ataukah mereka ingin melihat
aku tenggelam terlebih dahulu karena kelelahan
sebelum pada akhirnya mereka paham...?


3 December 2009

My Grow Up Wish

Posted by Si_Isna at 10:41 7 comments
Huhh...
Ini hari terpadat dalam hidup saya yang harus saya jalani. Dari jam 8 tadi pagi saya udah harus sibuk sampe jam (entah sampai kapan) sore nanti. Tapi sekarang saya masih sempat curi-curi waktu buat update blog, semua demi produktivitas... jiahhh...

Tadi sempat update status di fesbuk juga. Ternyata... beberapa teman ngucapin hal yang kurang lebih sama,

Hepi Besdei...

Oalah, gimana toh saya ini, kok sampai lupa sama ni hari. Padahal jam 00.00 tadi malam Si Pangeran Kodok udah nelpon saya cuma buat ngingetin kalau hari ini hari ulang tahun saya. Parah banget sih saya punya ingatan.

Mungkin karena selama ini saya ga pernah ngerayain ultah, saya jadi mengabaikannya. Eih, bukan... bukan mengabaikan, tapi mengganggapnya ga berbeda with my another ordinary days which always seem to be extraordinary. Hihii... jangan sampe keracunan yah baca bahasa saya...

Dan yah, berhubung saya akhirnya ingat kalau hari ini hari ulang tahun saya, jadi ayo, ayo... make a wish...

Semoga panjang umur
Ga, itu bukan keinginan terbesar saya saat ini karena saya tau setiap orang punya jatah umurnya sendiri-sendiri, begitu juga saya. Saya tau umur saya udah dijatah sama Tuhan. Itu yang selalu saya ingatkan pada diri sendiri setiap kali sampai di hari ulang tahun saya, kalau ternyata umur saya semakin berkurang setiap tahun. Dan itu bukan hal yang layak untuk dirayakan...

Semoga dimudahkan rezeki
Well, itu yang selalu saya harapkan setiap hari. Tapi ini kan hari ulang tahun saya yang spesial (at least, buat saya lah...), makanya saya juga pengen berharap sesuatu yang spesial juga...

Semoga panjang jodoh
Mungkin bener kalau saya dibilang dudutz sama teman-teman, karena saya selalu kebingungan dengan istilah "panjang jodoh". Maksudnya apaan ya? Jadi, karena ketidakmengertian saya itu, doa yang satu ini juga tersingkir dari wishlist saya... hohooo....

Semoga yang dicita-citakan tercapai
Well, saya memang punya satu cita-cita, mungkin bisa dibilang cita-cita terbesar saya, yaitu terdaftar sebagai pelajar di sekolah sihir Hogwarts. Is it possible...? hehee...

Waduh... doa-doa dan harapan-harapan di atas udah terlalu standar buat disebut-sebut di hari ulang tahun.

Saya udah punya harapan saya sendiri kok, sebuah pengharapan yang juga selalu saya panjatkan dalam setiap doa saya...

Saya ingin menjadi manusia yang lebih banyak memberi

Hmm... berat ya? Sebenernya ga terlalu berar-berat banget sih, cuma aja keknya saya masih ngerasa belum punya cukup banyak hal berarti yang bisa saya berikan kepada orang lain.

Tapi tau ga, sewaktu saya berpikiran seperti ini, jiwa saya yang satunya langsung teriak, "Ada!!! Kamu malahan punya banyak hal berarti yang bisa kamu bagikan buat orang lain. Come on...!! Wake up...!!"

Yah, jiwa saya yang lain ini memang sedikit cerewet soal memaknai kehidupan. Tapi toh dia memang benar. Say memang punya banyak hal yang bisa saya berikan untuk orang lain. Dan itu ga cuma terpatok pada materi aja. Mungkin saya nya aja yang terlalu muluk mengharapkan bisa memberi lebih. Padahal, cukup dengan hal-hal sederhana, misalnya aja memberikan senyuman kepada orang lain, yang saya bagikan dengan ketulusan dan keikhlasan hati, sudah menjadi pemberian yang ga ternilai harganya.

Ya ampun... kemana aja saya selama ini...



Wel, eniwei... hepi besdei tu mi...

2 December 2009

Kepedulian Saya Berbeda

Posted by Si_Isna at 11:57 2 comments

Hari AIDS sedunia emang diperingatin kemarin, tapi baru bisa saya obrolin hari ini... huhhuuu...
Tapi ga apa-apa lah, belum terlalu basi ini. Lagian kalo ngikut kata-kata bijak jadul yang keknya sekarang udah ketinggalan jaman banget, lebih baik terlambat daripada ga sama sekali... ya toh... hehee...

Jadi, semua juga udah pada tau kalau tanggal 1 Desember selalu diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Saya perhatikan setiap tahun banyak orang yang mengaku peduli terhadap isu yang satu ini mencoba menunjukkan kepedulian mereka, entah dengan berjalan kaki keliling kota sambil membagikan bunga (seperti yang dialami oleh Aron, hehee...), atau cukup dengan kompakan bareng teman-teman menyematkan red ribbon sebagai perlambang perang terhadap AIDS di dada mereka.



Tapi yang jadi pertanyaan saya, apakah mereka benar-benar paham tentang isu HIV/AIDS yang sebenarnya?

Saya teringat salah satu teman saya yang tahun kemaren begitu bersemangatnya ingin ikut menunjukkan kepeduliannya terhadap wabah AIDS dengan meminta teman-temannya memakai pita merah perlambang perang terhadap AIDS di baju mereka, termasuk saya.

"Ayo, buruan dipake. Sudah saatnya kita menunjukkan kepedulian kita buat mereka," begitu katanya waktu itu.

"Emang perlu ya?" tanya saya.

Saya tau, seharusnya saya ga bertanya seperti itu, karena teman saya ini langsung ngomel-ngomelin saya di hadapan teman-teman yang lain, bikin saya malu setengah hidup.

"Kamu ini gimana sih? Kita itu kan seharusnya... bla bla bla..." Yah, dia ngomel-ngomel panjang lebar, dan saya cuma diam dengerin omelan dia.

Itu bukan berarti saya ga peduli. Saya justru sangat peduli... saya sedih kalau ngeliat keadaan kritis para penderita AIDS... saya miris dengan stigma dan diskriminasi yang harus diterima para pengidap HIV... dan saya sangat berharap bahwa suatu saat para orang pintar yang selalu nemuin hal baru dan canggih dalam penelitian mereka pada akhirnya juga berhasil menemukan vaksin penyembuh AIDS, atau kalau memang tidak bisa menyembuhkan, setidaknya mampu mencegah penularannya.

Tapi kepedulian saya berbeda.

Saya ga ingin menunjukkan diri kalau saya peduli. Saya ga mau kemana-mana dengan pita merah tersemat di kemeja saya cuma buat ngingetin orang-orang kalau hari itu adalah hari peringatan AIDS sedunia. Kalaupun pada akhirnya mereka tau, apa itu bakalan menjamin kalau mereka juga bakalan ikut peduli...? Malah mungkin sebagian dari mereka bakalan bilang, "Ngapain sih mesti pake pita merah segala? Sok peduli ah!" Konyol banget kan jadinya...

Saya bukannya bersikap pesimis, cuma menggambarkan apa yang pasti terjadi dalam realita. Sebagian besar orang akan berkata, "Saya udah punya cukup banyak permasalahan tanpa harus ditambah-tambahin dengang masalah AIDS orang lain." See...?

Oke, balik ke teman saya tadi, yang masih aja terus menggurui saya dengan ceramahnya yang membosankan, membuat saya mulai ga sabar.

"Okey," kata saya. "Aku bakalan pake tuh pita, asal kamu kasih tau alasan yang jelas kenapa AIDS harus dilambangkan dengan pita merah. Kenapa bukan pita hitam atau putih? Trus kenapa harus pake pita? Kenapa ga pake tali aja gitu, atau yang lain?"

Saya ga bermaksud untuk menguji dia saat itu, cuma sekedar meyakinkan diri saya sendiri kalau dia memang paham, bukan sekedar tau. Tapi saya sudah bisa menebak jawaban apa yang bakalan keluar dari mulut ceriwisnya itu...

"Isna sayang," (gaya omongan dia waktu itu seakan-akan saya anak TK yang nanya Tuhan itu bener ada atau ga...) "mau pita merah atau yang lain, itu ga jadi masalah. Yang penting kan kepedulian kita," begitu jawabnya.

Yah, dia memang bener, tapi saya belum puas.

"Trus memangnya kepanjangan AIDS itu apaan sih?" coba saya lagi.

"Ya ampun, Isna," teman saya berlagak kaget. "Masa kamu ga tau sih? AIDS itu kan Accut Immune Decreasing Syndrome."

What?!! Apa... apa tadi?! Saya ga salah denger nih? Buset dah teman saya ini, asbun banget! Ngakunya peduli, tapi nyatanya...

Saya bisa aja ngetawain dia waktu itu, sekedar membalas dendam untuk perlakuan dia yang udah membunuh karakter saya di depan teman-teman yang lain. Tapi saya justru lebih prihatin. Saya hargai semangat dia untuk peduli, tapi semangat yang gigih tanpa diimbangi dengan pemahaman yang kuat sama aja artinya dengan menjerumuskan diri dalam sindrom underestimation (buset yah bahasa saya...).

Bukankah untuk memperjuangkan sesuatu paling ga kita mengerti apa yang akan kita perjuangkan?

Saya khawatir teman saya ini justru diremehkan dalam usahanya menunjukkan kepedulian.

Berusaha menjaga perasaannya, saya ambil pita merah yang udah dia siapin, saya pasang di kerah kemeja saya, dan ketika dia ga liat, saya tutupi dengan rambut saya. Sebagai tambahan, saya pinjami dia sebuah novel berlatar belakang isu seputar HIV/AIDS dengan harapan dia bakalan lebih memahami apa yang sedang dia perjuangkan itu.

Itu cerita setahun yang lalu. Saya agak jarang berkomunikasi dengan teman saya ini setahun belakangan karena dia udah mulai sibuk sama kerjaan barunya. Tapi ternyata kemaren dia nelpon saya, pengen ngajak keluar.

"Ke mall yuk," ajaknya kemaren. "Aku mau cari buku baru nih."

Entah kenapa, saya tergoda untuk ngingetin dia event di tanggal 1 Desember. "Loh, kamu ga ngumpul sama organisasi gereja kamu? Memperingati hari AIDS sedunia? Hari ini tanggal 1 Desember kan?" kata saya.

Teman saya agak sedikit salah tingkah sebelum dia menjawab, "Ayo, bisa ga keluar hari ini? Kalo ga aku cari teman lain deh."

Saya ga mau memperpanjang ledekan karena saya bukan tipe orang yang suka melakukan pembunuhan karakter terhadap orang lain. Jadi saya cuma menyimpan semua dugaan saya dalam hati.

Mungkin teman saya ini sudah benar-benar paham, pada akhirnya. Mungkin dia malu karena teringat kesalahan akut yang dia lakukan tahun kemaren. Atau mungkin, sikap peduli terhadap ODHA yang ditunjukkan dalam novel tersebut ternyata ga selaras dengan prinsipnya, sehingga dia memutuskan untuk ga lagi ambil bagian dalam kampanye peduli AIDS.

Yah, saya cuma bisa bilang, masing-masing orang punya caranya sendiri-sendiri untuk menunjukkan kepedulian, begitu juga saya. Saya ga perlu bunga ataupun pita merah. Yang saya perlukan cuma pemahaman mendalam tentang isu seputar HIV/AIDS. Itu sebabnya saya selalu mencari informasi sebanyak dan seakurat mungkin tentang isu ini agar ga terjadi kesalahpahaman di kemudian hari. Kepedulian itu saya tingkatkan lagi dengan berbagi pemahaman saya, dan berdiskusi dengan orang-orang terdekat saya, mereka yang peduli, atau yang mengaku peduli, untuk terus mengkampanyekan perang terhadap AIDS. Saya percaya itu lebih bermanfaat untuk mengurangi (karena saya tidak yakin apakah bisa dihilangkan) stigma dan diskriminasi di masyarakat.

Sungguh, itu jauh lebih bermakna...

My Blog List (testing what a long title looks like)

 
Blog Design by Template-Mama.